Konservasi Indonesia Siapkan ‘Manta Impact Bond’ Pertama di Dunia
Jakarta, sustainlifetoday.com – Konservasi Indonesia (KI) berkolaborasi dengan Conservation International (CI) tengah merancang Manta Impact Bond, sebuah instrumen pembiayaan berbasis hasil (outcomes-based financing) pertama di dunia yang secara khusus ditujukan untuk konservasi pari manta.
Sustainable Finance Manager Konservasi Indonesia, Ruth Aprilia, menjelaskan bahwa instrumen ini akan memanfaatkan mekanisme upfront capital guna menjamin ketersediaan dana kegiatan perlindungan sejak awal. Alokasi serta besaran dana modal saat ini sedang dievaluasi melalui kajian tapak di dua kawasan prioritas, yakni Raja Ampat dan Flores Timur.
“Modal dari penyandang dana awal disalurkan melalui Manta Resilience Fund untuk mendanai perlindungan populasi dan habitat pari manta, sekaligus meningkatkan manfaat ekowisata bagi komunitas lokal dan masyarakat adat yang hidup berdampingan dengan pari manta,” kata Ruth, dikutip dari keterangan resmi pada Jumat (25/9/2026).
Melalui skema Manta Impact Bond, investor atau penyandang dana awal baru akan menerima pengembalian modal pokok beserta imbal hasil (return) apabila indikator capaian target konservasi di lapangan berhasil dipenuhi dan diverifikasi oleh pihak independen.
BACA JUGA
- Kekeringan Parah 2026, BMKG: 1,6 Ribu Titik di Indonesia Tak Turun Hujan Lebih dari 2 Bulan
- MERIT Conference 2026 Desak Penguatan Sistem MRV untuk Pangkas Emisi Metana Sektor Sampah
- Jaga Hierarki Transportasi Hijau, Pemprov DKI Pertahankan Jalur Sepeda Ibu Kota
Saat ini, tahap perancangan Manta Impact Bond dijadwalkan berlangsung selama dua tahun dengan dukungan pendanaan dari bank pembangunan Prancis, Agence Française de Développement (AFD). Tahapan mencakup pengukuran kondisi awal (baseline), perumusan rencana strategis 20 tahun, studi kelayakan, hingga penyusunan sistem pemantauan, pelaporan, dan verifikasi (MRV).
Focal Species Conservation Senior Manager Konservasi Indonesia, Iqbal Herwata, mengungkapkan bahwa struktur instrumen dirancang guna merespons enam isu krusial di Raja Ampat, meliputi penangkapan ilegal, pariwisata tidak ramah lingkungan, alat tangkap merusak, sampah dan limbah, sedimentasi, hingga ancaman kecelakaan akibat bertabrakan dengan kapal.
“Manta Impact Bond direncanakan mulai dilaksanakan pada awal 2029,” ujar Iqbal.
Indonesia memegang posisi krusial dalam peta konservasi maritim dunia. Kawasan Bird’s Head Seascape di Raja Ampat tercatat sebagai habitat populasi pari manta karang (Mobula alfredi) terbesar kedua di dunia setelah Maladewa. Meski Indonesia telah menetapkan status perlindungan penuh bagi pari manta karang dan pari manta oseanik (Mobula birostris) sejak 2014, lambatnya laju reproduksi spesies ini serta maraknya perburuan insang ilegal menuntut skema pembiayaan konservasi yang berkelanjutan dan terukur.
