Tekan Emisi Hingga 90 Persen, BRIN Kembangkan Teknologi Gasifikasi WtE
Jakarta, sustainlifetoday.com – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengintegrasikan teknologi gasifikasi terkontrol dengan sistem penangkap karbon (carbon capture) untuk menekan emisi gas rumah kaca (GRK), khususnya metana (CH4) dan karbon dioksida (CO2), dari sektor pengolahan sampah menjadi energi atau waste-to-energy (WtE).
Inovasi yang dikembangkan oleh Pusat Riset Teknologi Konversi Energi (PRTKE) BRIN ini dirancang untuk fasilitas WtE berkapasitas 150 ton sampah per hari dan diklaim sanggup memangkas emisi GRK hingga 90 persen.
“Inovasi ini mengubah sampah menjadi energi sekaligus menekan emisi GRK dan mengolah material sisa menjadi produk bernilai tinggi, seperti Carbon Nanotube (CNT),” ujar Peneliti PRTKE BRIN, Nina Konitat Supriatna, dilansir dari laman resmi BRIN, Jumat (25/9/2026).
Melalui proses gasifikasi, material sampah diubah menjadi gas sintetis (syngas) yang kaya akan hidrogen, karbon monoksida, dan metana. Dalam pengembangannya, BRIN juga mengolah limbah plastik pada suhu ekstrem hingga 1.600 derajat Celsius untuk menghasilkan Carbon Nanotube (CNT), material maju berteknologi tinggi. Sementara itu, sisa residu seperti tar dan char (arang) diformulasikan menjadi bahan isolator dengan kinerja yang setara komposit komersial.
BACA JUGA
- Kekeringan Parah 2026, BMKG: 1,6 Ribu Titik di Indonesia Tak Turun Hujan Lebih dari 2 Bulan
- Dekarbonisasi Semester I 2026 Pertamina Capai 118 Persen di Atas Target, Perkuat Peringkat ESG Global
- Jaga Hierarki Transportasi Hijau, Pemprov DKI Pertahankan Jalur Sepeda Ibu Kota
Guna menekan emisi di sektor manufaktur dan industri berat, BRIN turut mengembangkan teknologi penangkapan karbon Calcium Looping bekerja sama dengan University of Waterloo, Kanada, yang secara khusus ditujukan bagi industri semen.
“Calcium looping ini bisa menangkap CO2 sampai 90 persen. Ini untuk industri semen, karena itu adalah sektor yang masalah emisinya bukan hanya dari bahan bakar, tetapi juga dari perubahan kalsium karbonat (CaCO3) menjadi kalsium oksida (CaO),” kata Nina.
Selain itu, BRIN juga menggalang kolaborasi dengan Universitas Indonesia (UI) untuk mengembangkan teknologi Direct Air Capture (DAC) berbasis solvent yang lebih ramah lingkungan. Saat ini, BRIN tengah menjajaki kemitraan dengan sektor industri guna merealisasikan penerapannya di lapangan.
Pengembangan ragam teknologi mitigasi ini menjadi respon atas krisis pengelolaan sampah urban dan pembakaran terbuka (open burning) yang tidak hanya memicu krisis iklim, tetapi juga melepaskan polutan berbahaya seperti dioksin dan furan ke atmosfer.
