KLH Soroti Kontribusi Perempuan dalam Membangun Budaya Peduli Lingkungan
Jakarta, sustainlifetoday.com – Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) menilai perempuan memiliki peran strategis dalam mendorong perubahan perilaku masyarakat menuju gaya hidup yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan.
Penasehat DWP KLH/BPLH, Alia Febyani Prabandari Jumhur Hidayat, mengatakan besarnya jumlah perempuan di Indonesia menjadi modal penting dalam memperluas edukasi dan kampanye lingkungan di tingkat keluarga maupun komunitas.
“Sekitar 49 persen penduduk Indonesia adalah perempuan dan lebih dari separuhnya merupakan pekerja. Ini menunjukkan perempuan memiliki kapasitas dan akses edukasi yang cukup baik untuk menjadi agen perubahan di masyarakat,” kata Penasehat DWP KLH/BPLH, Alia Febyani Prabandari Jumhur Hidayat dalam acara International Environment Technology and Innovation Expo & Conference (Invirotech) 2026 di Jakarta, Sabtu (13/6).
Menurut Alia, perempuan memiliki pengaruh besar dalam kehidupan keluarga dan lingkungan sosial sehingga berpotensi menjadi motor penggerak berbagai gerakan pelestarian lingkungan.
Pandangan tersebut menjadi salah satu fokus dalam talkshow bertajuk Green Beauty Lifestyle: Bijak Memilih Produk Kebutuhan Perempuan yang Ramah Lingkungan yang diselenggarakan oleh DWP Kementerian Lingkungan Hidup dan Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH).
BACA JUGA
- Menteri LH: Generasi Tua Punya Utang Lingkungan kepada Gen Z dan Gen Alpha
- 16 Pejuang Lingkungan Raih Penghargaan Kalpataru 2026 dari KLH
- Pramono Buka Peluang Perluas Penerima Fasilitas Transportasi Umum Gratis di Jakarta
Kegiatan tersebut bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai gaya hidup berkelanjutan, pengelolaan sampah yang bertanggung jawab, serta pemanfaatan teknologi hijau dalam kehidupan sehari-hari.
Alia juga menyoroti peran berbagai organisasi perempuan seperti Dharma Wanita Persatuan, Kongres Wanita Indonesia (Kowani), serta komunitas perempuan lainnya yang dinilai memiliki potensi besar dalam memperluas jangkauan edukasi lingkungan kepada masyarakat.
Menurutnya, keberhasilan program bank sampah selama ini tidak terlepas dari tingginya partisipasi perempuan yang mencapai lebih dari 50 persen. Karena itu, program tersebut perlu terus diperluas hingga menjangkau lingkungan permukiman, sekolah, kampus, maupun berbagai komunitas masyarakat.
“Program bank sampah merupakan program yang sangat baik dan perlu diperluas. Namun, yang tidak kalah penting adalah edukasi dan kampanye yang dilakukan secara berkelanjutan agar kesadaran masyarakat terus tumbuh,” katanya.
Untuk memperkuat upaya tersebut, KLH/BPLH juga mendorong keterlibatan generasi muda melalui pendidikan lingkungan di sekolah, pemanfaatan media sosial, serta kolaborasi dengan influencer untuk memperluas kampanye pengelolaan sampah dan gaya hidup berkelanjutan.
Sementara itu, Direktur Mitigasi Perubahan Iklim Deputi Bidang Pengendalian Perubahan Iklim dan Tata Kelola Nilai Ekonomi Karbon, Haruki Agustina, menegaskan bahwa perempuan merupakan garda terdepan dalam gerakan pelestarian lingkungan karena perannya sebagai pilar utama keluarga.
“Perempuan sebenarnya merupakan gugus pertama dalam gerakan pelestarian lingkungan. Dari rumah, perempuan dapat mengedukasi keluarga dan lingkungan sekitarnya untuk menerapkan kebiasaan memilah sampah dan menjaga kebersihan,” katanya.
Haruki menjelaskan bahwa kebiasaan memilah sampah dari sumbernya merupakan langkah sederhana namun efektif dalam membangun budaya peduli lingkungan. Menurutnya, perubahan perilaku yang dimulai dari rumah tangga dapat menyebar kepada anggota keluarga, tetangga, hingga masyarakat luas.
Melalui peran aktif perempuan, edukasi lingkungan, dan penguatan budaya pengelolaan sampah dari tingkat rumah tangga, upaya mewujudkan masyarakat yang lebih peduli terhadap lingkungan dan keberlanjutan dinilai dapat berjalan lebih efektif.
