DBS Dorong Pembiayaan Berkelanjutan sebagai Solusi Krisis Iklim Global
Jakarta, sustainlifetoday.com — Pemerintah dan investor kini meninjau kembali makna kemajuan, menjadikan keberlanjutan sebagai inti dari pertumbuhan masa depan. Dari energi bersih hingga konservasi laut, gagasan ekonomi hijau (green economy) dan ekonomi biru (blue economy) muncul sebagai fondasi baru dalam merancang masa depan yang inklusif dan tangguh.
Transformasi ini menuntut sistem keuangan untuk beradaptasi lebih cepat. Pembiayaan berkelanjutan kini tidak hanya sebatas menyalurkan dana ke proyek hijau, tetapi juga mendukung sektor-sektor yang sedang bertransisi menuju praktik yang lebih ramah lingkungan dan sosial.
Chief Sustainability Officer DBS Bank, Helge Muenkel, menuturkan bahwa aksi nyata dibutuhkan untuk menghadapi krisis alam. Menurutnya, krisis iklim tidak akan terselesaikan tanpa mengatasi hilangnya keanekaragaman hayati. Ia menyebutkan, dampak finansial dari krisis ini sudah mulai terasa, mulai dari terganggunya rantai pasok hingga menurunnya hasil pertanian.
Helge menambahkan, bagi sektor-sektor yang bergantung pada sumber daya alam seperti pangan, pertanian, dan pertambangan, hal ini bukan lagi risiko masa depan, melainkan realitas keuangan saat ini.
“Karena itu, pembiayaan berkelanjutan bukan lagi sekadar tren, tetapi kebutuhan mendesak untuk menjaga ketahanan bisnis jangka panjang dan stabilitas ekonomi. Kita perlu mengubah cara pandang terhadap kemajuan, dari sekadar mengejar pertumbuhan jangka pendek menjadi menciptakan kesejahteraan jangka panjang bagi manusia dan alam,” ujar Helge dalam keterangan resminya dikutip pada Senin (27/10).
Ia menjelaskan, terdapat sejumlah tren utama yang membentuk masa depan pembiayaan berkelanjutan. Salah satunya adalah transition finance, yakni pembiayaan yang membantu perusahaan dan perekonomian bertransisi secara bertahap menuju emisi lebih rendah meski belum sepenuhnya hijau. Pendekatan ini dianggap relevan bagi negara berkembang seperti Indonesia yang masih bergantung pada energi fosil, karena menjadi jembatan antara kebutuhan pembangunan dan komitmen menuju masa depan rendah karbon.
Helge menilai, inovasi keuangan juga berperan penting dalam mendefinisikan ulang pembiayaan iklim. Jalur menuju net zero tidak hanya membutuhkan teknologi baru, tetapi juga cara berpikir baru tentang pendanaan. Salah satu bentuk inovasi tersebut adalah sistem carbon credit, yang memberikan nilai ekonomi pada pengurangan emisi serta menyalurkan modal ke arah transformasi nyata di lapangan.
Baca Juga:
- KAI Logistik Tunjukkan Komitmen ESG Lewat Transparansi Emisi Pengiriman Barang
- Dampak Perubahan Iklim, Produksi Kakao Indonesia Turun Signifikan
- Klarifikasi Soal Sumber Air, Aqua: Sudah Sesuai Izin dan Prinsip Keberlanjutan
“Untuk memperkuat ekosistem ini, DBS Bank Ltd (Bank DBS) turut mendirikan bursa karbon global bernama Climate Impact X (CIX) bersama Temasek, Singapore Exchange, dan Standard Chartered,” ujarnya.
CIX dibentuk untuk membangun pasar yang tepercaya dan transparan bagi carbon credit berkualitas tinggi, sekaligus membuka potensi penuh pasar karbon sebagai katalis aksi iklim global.
Melanjutkan momentum ini, pasar kini juga mulai menyaksikan munculnya transition credit sebagai inovasi keuangan baru yang memberikan pengakuan atas upaya nyata dari perusahaan yang sedang dalam proses dekarbonisasi. Meskipun belum sepenuhnya hijau, langkah-langkah tersebut dianggap sebagai bagian dari pembiayaan realistis yang memahami bahwa transisi menuju keberlanjutan membutuhkan waktu dan proses bertahap.
Helge menegaskan bahwa keberlanjutan kini bukan sekadar kewajiban moral, melainkan pendorong utama kesuksesan bisnis jangka panjang. Data dari Corporate Governance Institute menunjukkan bahwa perusahaan yang menerapkan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) memiliki risiko operasional lebih rendah, loyalitas pelanggan lebih tinggi, serta daya tarik investasi yang lebih besar.
“Tidak selalu ada kompromi antara imbal hasil dan keberlanjutan. Jika kita percaya pada megatren seperti perubahan iklim, maka memasukkan aspek keberlanjutan ke inti bisnis justru akan membuat perusahaan lebih tangguh dalam jangka panjang,” tambahnya.
Helge juga menyoroti pentingnya melindungi alam sebagai bagian dari menjaga stabilitas ekonomi global. Laporan PwC menunjukkan bahwa lebih dari USD 58 triliun atau sekitar 55 persen dari PDB global bergantung pada alam. Namun, masih kurang dari 1 persen perusahaan di dunia yang benar-benar menyadari sejauh mana operasi mereka bergantung pada sumber daya alam.
Ia menilai, Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan nature-based solutions (NBS), seperti restorasi mangrove, rehabilitasi lahan gambut, dan proyek karbon berbasis alam. Selain berkontribusi pada pengurangan emisi, proyek-proyek ini juga memiliki dampak ekonomi signifikan, termasuk perlindungan kawasan pesisir dari kerugian akibat bencana alam.
Terakhir, Helge menekankan bahwa transisi menuju ekonomi hijau dan biru hanya dapat dicapai melalui kerja sama lintas sektor antara pemerintah, regulator, pelaku industri, lembaga keuangan, dan masyarakat sipil.
“Bank DBS merupakan salah satu lembaga yang secara aktif menerapkan pendekatan ini melalui sejumlah inisiatif bersama mitra global dan lokal,” ujarnya.
Salah satu contohnya adalah proyek blended finance bersama Karian Water Services, Asian Development Bank, dan International Finance Corporation untuk membiayai penyediaan air bersih bagi lebih dari dua juta penduduk di Jakarta, Tangerang, dan Tangerang Selatan.
Proyek ini menjadi implementasi pertama skema pembiayaan campuran di sektor air Indonesia dan menunjukkan bagaimana model kemitraan semacam ini dapat diterapkan di bidang lain, termasuk energi terbarukan dan infrastruktur berkelanjutan.
“Kami tidak dapat mencapai perubahan ini sendirian. Sesuai dengan aspirasi kami untuk menjadi ‘Best Bank for a Better World’, Bank DBS berkomitmen tidak hanya untuk mengembangkan solusi pembiayaan berbasis alam tetapi juga untuk mendorong inovasi keuangan yang berdampak positif melalui kolaborasi dengan berbagai mitra,” kata Helge.
“Setiap pemangku kepentingan memiliki peran yang harus dimainkan agar transformasi ekonomi hijau dan biru tidak hanya menjadi konsep belaka. Hal ini menghasilkan solusi yang relevan, inklusif, dan berkelanjutan bagi baik manusia maupun lingkungan,” tambahnya.
Sebagai bagian dari komitmen tersebut, DBS Group telah menerbitkan panduan dekarbonisasi “Our Path to Net Zero” yang menyoroti sembilan sektor kunci, termasuk energi, pangan, otomotif, hingga kimia. Panduan ini menjadi acuan strategis dalam merancang transisi yang realistis sekaligus memberikan kontribusi nyata terhadap pengurangan emisi.
Bank DBS juga membentuk Indonesia Sustainability Council (ISC) untuk mengarahkan strategi dan tindakan ESG di Indonesia, sejalan dengan upaya keberlanjutan global DBS Group. Melalui langkah ini, Bank DBS berperan aktif mendukung perusahaan yang bertransformasi menuju ekonomi rendah karbon, termasuk menjadi koordinator ESG dalam penerbitan obligasi sosial PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI).
