Dampak Perubahan Iklim, Produksi Kakao Indonesia Turun Signifikan
Jakarta, sustainlifetoday.com — Produksi kakao Indonesia mengalami penurunan signifikan sehingga menurunkan posisi Indonesia dari salah satu produsen kakao terbesar dunia menjadi peringkat ketujuh.
Saat ini, produksi kakao nasional hanya mencapai sekitar 200.000 ton per tahun, turun tajam dari sebelumnya yang sempat mencapai 590.000 ton. Kondisi ini membuat Indonesia kini beralih menjadi negara pengimpor kakao.
“Penurunan ini mengakibatkan Indonesia harus impor biji kakao untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri di dalam negeri. Dan tahun 2024, impor biji ini sebanyak 157.000 ton,” kata Deputi Bidang Koordinasi Usaha Pangan dan Pertanian Kemenko Pangan, Widiastuti, dalam peringatan Hari Kakao Indonesia, dilansir Jumat (24/10).
Widiastuti menjelaskan bahwa penurunan produksi disebabkan oleh sejumlah faktor, di antaranya perubahan iklim dan usia tanaman kakao yang sudah tua.
“Iklim jelas menjadi faktor utama. Selain itu, banyak pohon kakao yang sudah tua, makanya dibutuhkan solusi, baik dari sisi pengembangan teknologi maupun pemeliharaan,” ucapnya.
Baca Juga:
- Kemenperin Dorong Industri Plastik Beralih ke Produksi Ramah Lingkungan
- PLN–KAI Percepat Elektrifikasi Jalur Kereta, Efisiensi Energi Capai 70 Persen
- Mikroplastik di Air Hujan Jakarta, Pramono: Sedang Dikaji Dinas Lingkungan Hidup
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia kini mengimpor kakao sebanyak 197 ribu ton, sementara ekspor hanya mencapai 13 ribu ton, dengan Malaysia sebagai tujuan ekspor terbesar.
Untuk mengatasi masalah tersebut, Kementerian Pertanian (Kementan) menargetkan peremajaan 175.500 hektare (ha) tanaman kakao pada 2026 yang akan didanai melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Lebih lanjut, pada 2027, pemerintah juga berencana melakukan peremajaan 68.734 ha tambahan. Upaya ini dilakukan karena saat ini terdapat sekitar 290.000 ha tanaman kakao yang mengalami kerusakan.
“Jadi kalau kita bandingkan dengan tadi jumlah tanaman rusak kita itu 290.000 ha, melalui program hilirisasi ini sebenarnya sudah hampir terpenuhi 240.000 ha,” kata Widiastuti.
