Cegah Lonjakan Emisi 1 Miliar Ton CO2, PLN Andalkan ARED dan Green Enabling Super Grid
Jakarta, sustainlifetoday.com – PT PLN (Persero) mengkalkulasi total emisi sektor ketenagalistrikan Indonesia berpotensi melambung hingga 1,057 miliar ton CO2 per tahun pada 2060 apabila tidak dilakukan intervensi dekarbonisasi secara agresif. Guna menekan lonjakan tersebut, BUMN ketenagalistrikan ini mengandalkan skema Accelerating Renewable Energy Development (ARED) sebagai strategi utama transisi energi.
Direktur Teknologi, Teknik, dan Keberlanjutan PT PLN (Persero), Edwin Nugraha Putra, memaparkan bahwa saat ini emisi operasional PLN berada di angka 247 ribu ton CO2, yang dihasilkan dari total penjualan listrik tahun 2025 sebesar 317 terawatt-hour (TWh) dengan total daya terpasang mencapai 80 gigawatt (GW).
“Kita lihat di sini, kalau kita tidak melakukan apa-apa, energi listrik yang naik angkanya dari 317 tadi yang kita start menuju angka tahun 2060, emisi yang kita bangkitkan sekarang 247 itu akan naik menjadi 1.057 juta ton CO2 per tahunnya akan kita emisikan ke atmosfer. Nah, kalau kita PLN telah menyusun apa yang kami sebut ARED,” ucap Edwin dalam ajang Energy Week yang diselenggarakan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dikutip Senin (28/9/2026).
Melalui skenario ARED, PLN menargetkan perombakan struktur bauran energi nasional pada 2060. Porsi Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batu bara yang saat ini mendominasi hingga 51% dan gas sebesar 30%, akan dipangkas secara bertahap hingga bauran energi bersih bergeser menjadi 76% Energi Baru Terbarukan (EBT) dan 16% gas.
Pembangkit fosil eksisting yang masih beroperasi juga disiapkan untuk mendapatkan integrasi teknologi penangkapan karbon (Carbon Capture and Storage/CCS).
BACA JUGA
- KKP Bersama Tim Gabungan Evakuasi Bangkai Diduga Paus di Perairan Indragiri Hilir
- Dinilai Lebih Efektif, Pengelolaan Sampah Organik Berbasis Komunitas Terkendala Akses Pendanaan
- WHO Peringatkan El Nino Ancam Kesehatan Global dan Picu Lonjakan Wabah
“Kemudian kita introduce pembangkit-pembangkit nuclear power plant dan kita masukkan pembangkit-pembangkit geothermal dan hydropower, sehingga memang transisi energi ini utamanya adalah pembangkit-pembangkit renewable energy,” lanjutnya.
Namun demikian, Edwin menggarisbawahi tantangan geografis berupa ketidaksesuaian (mismatch) antara lokasi potensi sumber energi bersih dengan pusat beban atau permintaan (demand) listrik nasional. Saat ini, sebesar 70% konsumsi listrik nasional terkonsentrasi di Pulau Jawa, 15% di Sumatra, dan 15% sisanya tersebar di pulau-pulau lain.
“Itu dulu di waktu kita masih berfokus kepada fossil fuel-based. Tapi sekarang, ketika kita masuk ke renewable energy, kita tidak mungkin misalnya memindahkan sungai yang ada di Aceh ke Jawa supaya energinya bisa renewable energy mengalir, tidak bisa,” sambungnya.
Guna menghubungkan potensi EBT di kawasan terpencil menuju pusat beban di Pulau Jawa, PLN memasukkan pembangunan koridor Green Enabling Super Grid ke dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL).
“Nah, untuk mengatasi mismatch tersebut, sesuai dengan Accelerated Renewable Energy Development atau ARED yang kami sebutkan tadi, PLN dalam RUPTL-nya menyampaikan akan membangun apa yang kami sebut Green Enabling Super Grid di dalam RUPTL,” jabarnya.
Infrastruktur transmisi terpadu Green Enabling Super Grid tersebut dirancang melintasi tiga koridor utama, yakni koridor interkoneksi Sumatra–Jawa yang ditargetkan beroperasi pada 2031, koridor Kalimantan–Jawa pada 2034, serta koridor transmisi Sumba–Bali–Jawa yang ditargetkan rampung pada 2040.
