Bumi Berputar Lebih Cepat pada Juli–Agustus 2025, Apa Dampaknya?
JAKARTA, Sustainlifetoday.com – Juli hingga Agustus 2025 diperkirakan akan mencatat hari-hari terpendek dalam setahun. Fenomena ini terjadi seiring dengan meningkatnya kecepatan rotasi Bumi, sebuah pola yang sejak 2020 terus menguat dan kini menjadi perhatian para ilmuwan dunia.
Menurut prediksi International Earth Rotation and Reference Systems Service (IERS), 22 Juli dan 5 Agustus 2025 akan menjadi dua hari terpendek, masing-masing lebih singkat 1,38 dan 1,5 milidetik dibandingkan durasi normal satu hari (86.400 detik).
Fenomena percepatan rotasi Bumi bukan hal baru, namun tren jangka pendek yang kini terjadi cukup mengejutkan. Dalam beberapa tahun terakhir, justru tak ada kebutuhan menambah detik kabisat, sesuatu yang sebelumnya lazim dilakukan untuk menyesuaikan sistem waktu global, termasuk sistem GPS dan navigasi.
Apa yang Menyebabkan Rotasi Bumi Melaju?
Secara historis, Bulan dianggap sebagai faktor utama perlambatan rotasi Bumi. Namun, kini ilmuwan menyadari bahwa jarak dan posisi Bulan terhadap khatulistiwa Bumi juga bisa mempercepat rotasi. Saat Bulan berada pada posisi maksimal dari ekuator, efek tarikannya bisa mempercepat gerak putar Bumi.
Baca Juga:
- Pertamina Drilling Berhasil Kurangi Emisi Komuter hingga 82%, Ini Rahasianya!
- Dukung Swasembada Pangan, Hutama Karya Rehabilitasi Irigasi di Aceh dan Riau
- Sering Diabaikan, Puntung Rokok Ternyata Jadi Masalah bagi Lingkungan
Tak hanya itu, faktor-faktor lain seperti perubahan distribusi massa air laut, pergeseran inti Bumi, hingga bencana besar seperti gempa bumi juga dapat memengaruhi kecepatan rotasi. Misalnya, gempa bumi besar di Jepang tahun 2011 tercatat menggeser sumbu Bumi dan memperpendek hari sebanyak 1,8 mikrodetik.
Apakah Ini Mengkhawatirkan?
Meski perubahannya sangat kecil, hanya sepersekian milidetik, dampaknya bisa signifikan pada sistem navigasi, komunikasi, hingga teknologi presisi tinggi yang bergantung pada waktu atom.
Namun lebih dari itu, fenomena ini mengingatkan kita bahwa Bumi adalah sistem hidup yang dinamis, terus berubah akibat interaksi kompleks antara unsur alam, geofisika, dan astronomi.
“Kurangnya kebutuhan akan detik kabisat ini tidak diperkirakan sebelumnya,” kata Judah Levine, fisikawan dari National Institute of Standards and Technology (NIST).
