Ilmuwan Uji Teknologi Serap Karbon di Laut untuk Lawan Pemanasan Global
Jakarta, sustainlifetoday.com – Para ilmuwan melakukan eksperimen unik di Teluk Maine, Amerika Serikat, dengan memompa sekitar 65.000 liter bahan kimia alkali ke laut. Percobaan ini dilakukan untuk menguji metode baru penyerapan karbon dari atmosfer sebagai bagian dari upaya menghadapi pemanasan global dan pengasaman laut.
Eksperimen tersebut dikenal sebagai ocean alkalinity enhancement (OAE) atau peningkatan alkalinitas laut. Pendekatan ini meniru proses pelapukan alami yang biasanya berlangsung dalam skala waktu geologis, tetapi dipercepat dalam skala waktu manusia.
“Laut sudah sangat basa. (Laut menyimpan) 38.000 miliar ton karbon, yang tersimpan sebagai bikarbonat terlarut, atau soda kue,” kata ahli oseanografi utama dari tim peneliti yang mengumumkan hasil awal dari uji coba mereka di Pertemuan Ilmu Kelautan AGU di Glasgow, Adam Subhas, dilansir dari The Guardian, Rabu (11/3).
Secara teori, peningkatan alkalinitas ini akan mendorong lautan menyerap lebih banyak karbon dari atmosfer. Jika diterapkan dalam skala luas dan disertai pengurangan emisi gas rumah kaca yang signifikan, metode ini berpotensi membantu menahan kenaikan suhu global agar tidak melampaui dua derajat Celsius di atas tingkat pra-industri.
Selain itu, peningkatan alkalinitas juga dapat membantu menurunkan tingkat keasaman laut yang saat ini berada pada level tertinggi dalam satu juta tahun terakhir, kondisi yang mengancam kehidupan laut serta sektor perikanan.
Percobaan tersebut dilakukan oleh para ilmuwan dari Woods Hole Oceanographic Institution yang telah memperoleh izin dari Badan Perlindungan Lingkungan AS. Lokasi eksperimen berada sekitar 50 mil atau sekitar 80 kilometer dari lepas pantai Massachusetts, wilayah yang dikenal sebagai area penangkapan ikan kod, haddock, dan lobster.
BACA JUGA
- ESG Berubah Jadi Risiko Finansial, Mardiasmo Soroti Dampaknya pada Cost of Capital
- Governance Failures Bisa Picu Krisis Reputasi Korporasi, Ini Peringatan Herry Ginanjar
- Herry Putranto Ingatkan Risiko Iklim terhadap Operasional dan Rantai Pasok Global
Meski masih berskala kecil dan menunggu proses peninjauan sejawat, hasil awal dari eksperimen tersebut menunjukkan potensi yang cukup menjanjikan.
Selama lima hari pengujian di laut, proyek bernama Loc-Ness menggunakan berbagai teknologi pemantauan mutakhir seperti glider otonom, kendaraan bawah air otonom jarak jauh, serta sensor kapal untuk melacak penyebaran natrium hidroksida yang diberi penanda pewarna merah.
Para peneliti mencatat hingga 10 ton karbon terserap ke dalam laut selama eksperimen berlangsung. Pengukuran juga menunjukkan peningkatan pH lokal dari 7,95 menjadi 8,3, yang mengindikasikan kondisi alkalinitas laut kembali mendekati tingkat pra-industri.
Dalam pengamatan awal, percobaan tersebut tidak menunjukkan dampak berbahaya yang signifikan terhadap organisme laut kecil seperti plankton, larva ikan, dan lobster. Namun, penelitian ini belum mengevaluasi dampaknya terhadap ikan dewasa atau mamalia laut.
Konsep OAE sendiri memiliki kemiripan dengan praktik pengapuran yang telah digunakan selama ribuan tahun. Sekitar 2.000 tahun lalu, petani Yunani menggunakan kapur alkali untuk menetralkan keasaman tanah pertanian mereka.
Metode serupa juga pernah diterapkan pada 1980-an di sungai-sungai Skandinavia untuk mengatasi penurunan populasi ikan akibat hujan asam.
Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah perusahaan rintisan mulai mengembangkan teknologi OAE dan bahkan menjual kredit karbon melalui registrasi penghapusan karbon internasional seperti Isometric. Kredit ini kemudian dibeli oleh perusahaan yang ingin mengklaim target net zero emission (NZE).
Meski demikian, para ilmuwan menilai efektivitas dan keamanan metode ini masih perlu diteliti lebih jauh sebelum diterapkan secara luas.
Tim peneliti yang dipimpin Adam Subhas, yang melibatkan ilmuwan dari Woods Hole Oceanographic Institution, Rutgers University, serta Environmental Defence Fund, kini tengah mengembangkan model dan analisis data kelautan untuk memahami bagaimana bahan kimia tersebut terus menyerap karbon dioksida dari waktu ke waktu.
“Dalam skenario terbaik, penyebaran ini akan menyebabkan penyerapan sekitar 50 ton karbon dioksida dari atmosfer ke air laut selama kurang lebih satu tahun,” ucap Subhas.
Sebagai perbandingan, jumlah tersebut setara dengan emisi gas rumah kaca tahunan yang dihasilkan oleh sekitar lima warga Inggris.
BACA JUGA
