Ford Akui Kesulitan Jual Mobil Pikap Listrik, Ini Alasannya
Jakarta, sustainlifetoday.com — Produsen mobil di Amerika Serikat sempat berlomba menghadirkan pikap listrik sebagai strategi untuk menarik konsumen yang masih skeptis terhadap kendaraan listrik. Namun, tidak semua strategi tersebut berjalan sesuai harapan.
Salah satu contohnya terjadi pada F-150 Lightning, pikap listrik buatan Ford yang sempat digadang-gadang menjadi andalan perusahaan dalam transisi menuju kendaraan listrik.
CEO Ford Jim Farley mengakui bahwa jika perusahaan telah mengetahui tantangan pasar yang terjadi saat ini, pendekatan terhadap pengembangan pikap listrik kemungkinan akan berbeda.
“Saya pasti akan melakukannya dengan cara yang berbeda,” ujar Farley dikutip Inside EV, Jumat (6/3)
“Maksud saya, lihat, kami tidak tahu apa yang tidak kami ketahui,” tambahnya.
Pada awal masa produksinya, F-150 Lightning sempat menjadi truk listrik terlaris di pasar. Model ini menarik perhatian konsumen karena performa dan reputasi model F-150 yang sudah lama populer di Amerika Serikat.
Namun, Ford dinilai kurang tepat memprediksi tingkat penyerapan pasar terhadap kendaraan tersebut. Perusahaan sempat meningkatkan kapasitas produksi dengan investasi besar karena memperkirakan permintaan akan terus meningkat.
Situasi berubah ketika pandemi Covid-19 berdampak pada rantai pasok dan kondisi bisnis global. Akibatnya, produksi pikap listrik tersebut akhirnya dihentikan pada Desember 2025, hanya sekitar tiga tahun setelah pertama kali diluncurkan.
BACA JUGA
- ESG Berubah Jadi Risiko Finansial, Mardiasmo Soroti Dampaknya pada Cost of Capital
- Governance Failures Bisa Picu Krisis Reputasi Korporasi, Ini Peringatan Herry Ginanjar
- Herry Putranto Ingatkan Risiko Iklim terhadap Operasional dan Rantai Pasok Global
“Kami memiliki Mustang (Mach-E), kami memiliki E-Transit, kami memiliki Lightning, dan orang-orang menyukai produk-produk ini. Masalahnya adalah mereka tidak akan pernah membayar biaya yang kami masukkan ke dalam kendaraan,” tutur Farley.
Salah satu tantangan utama berasal dari biaya produksi yang tinggi, terutama pada komponen dan material kendaraan listrik.
Dalam evaluasi internal, Farley bahkan membandingkan struktur kendaraan Ford dengan produk kompetitor. Ia menemukan bahwa sistem kabel pada kendaraan Ford memiliki bobot sekitar 31,75 kilogram lebih berat dibandingkan Mach-E dan 1,6 kilometer lebih panjang dibandingkan sistem kabel pada kendaraan listrik Tesla.
“Kami tidak tahu apa yang terjadi dalam pikiran (insinyur Tesla). Tapi sekarang kami mengerti,” tuturnya.
“Mereka tidak memiliki prasangka. Kami memiliki prasangka. Kami pergi ke orang rantai pasokan kami dan berkata, ‘Beli kabel harness yang lain.’ (Tesla) berkata, ‘Mari kita rancang kendaraan untuk baterai terendah dan terkecil.’ Pendekatan yang sama sekali berbeda,” jelasnya.
Pengalaman ini menunjukkan bahwa bisnis pikap listrik memiliki risiko yang tinggi, terutama karena biaya produksi yang mahal. Di sisi lain, produsen kendaraan juga dituntut mampu menyesuaikan kapasitas produksi dengan dinamika permintaan pasar.
Sebagai respons terhadap kondisi tersebut, Ford kini mengubah strategi bisnisnya dari pendekatan value over volume menjadi fokus pada kendaraan listrik dengan segmen harga yang lebih terjangkau.
Perusahaan juga tengah mencari berbagai cara untuk menekan biaya produksi agar pengembangan kendaraan listrik tetap berkelanjutan tanpa menimbulkan kerugian besar di masa depan.
BACA JUGA:
