BMKG: Hujan dan Angin Kencang Berpotensi Terjadi Menjelang Puncak Mudik Lebaran 2026
Jakarta, sustainlifetoday.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi sejumlah wilayah di Indonesia masih akan diguyur hujan menjelang periode mudik Lebaran 2026. Kondisi ini dipengaruhi oleh dinamika atmosfer yang meningkatkan potensi pembentukan awan hujan di berbagai daerah.
“Periode 11 sampai 16 Maret 2026 cuaca di Indonesia umumnya didominasi oleh kondisi hujan ringan hingga hujan sedang,” kata BMKG dalam keterangan resminya, Selasa (10/3).
BMKG memprakirakan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat berpotensi terjadi di sejumlah wilayah, antara lain Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jambi, Sumatera Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Bengkulu, Lampung, Banten, Jakarta, dan Jawa Barat.
Potensi hujan juga diperkirakan terjadi di Jawa Tengah serta sejumlah wilayah di Kalimantan seperti Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Selatan. Selain itu, hujan berpotensi terjadi di Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, serta sejumlah wilayah di Papua seperti Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, Papua Pegunungan, Papua, dan Papua Selatan.
BACA JUGA
- ESG Berubah Jadi Risiko Finansial, Mardiasmo Soroti Dampaknya pada Cost of Capital
- Governance Failures Bisa Picu Krisis Reputasi Korporasi, Ini Peringatan Herry Ginanjar
- Herry Putranto Ingatkan Risiko Iklim terhadap Operasional dan Rantai Pasok Global
BMKG juga memperkirakan potensi hujan lebat yang dapat disertai kilat atau petir serta angin kencang selama sepekan ke depan. Kondisi ini dipicu oleh dinamika atmosfer yang terjadi pada skala global, regional, hingga lokal.
Salah satu faktor yang memengaruhi adalah pergerakan Madden-Julian Oscillation (MJO) yang diprediksi bergeser ke fase 6 dan 7. Pergeseran ini menyebabkan konsentrasi pembentukan awan hujan lebih dominan terjadi di wilayah Indonesia bagian timur.
Selain itu, aktivitas gelombang atmosfer seperti gelombang Kelvin dan gelombang Rossby ekuatorial juga diperkirakan aktif di sejumlah wilayah, termasuk Sumatera dan Kalimantan bagian utara, sebagian Sulawesi, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Barat, dan Papua.
Fenomena tersebut berkontribusi terhadap peningkatan aktivitas konvektif yang dapat memicu pertumbuhan awan hujan di berbagai wilayah.
“Di sisi lain, bibit siklon tropis 95W diprakirakan masih persisten berada di Samudera Pasifik Utara Papua. Sistem ini memiliki kecepatan angin maksimum 20 knots, tekanan udara minimum 1006 hPa, dan pergerakan ke arah timur laut menjauhi wilayah Indonesia,” tutur BMKG.
BMKG menjelaskan bahwa keberadaan bibit siklon tersebut memicu terbentuknya daerah konvergensi dan konfluensi di Samudera Pasifik utara Pulau Halmahera hingga wilayah utara Papua Barat. Daerah konvergensi lainnya juga diperkirakan terbentuk di sejumlah wilayah Indonesia.
Kondisi ini dapat meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di sekitar wilayah tersebut. Selain itu, terpantau pula adanya daerah tekanan rendah di Australia bagian utara yang memicu terbentuknya daerah pertemuan angin dari Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Maluku bagian selatan hingga Laut Arafuru.
Dengan kondisi kelembapan udara yang masih tinggi serta labilitas atmosfer lokal yang kuat, potensi curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia diperkirakan meningkat secara signifikan.
BMKG mengimbau masyarakat serta para pemangku kepentingan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem yang dapat memicu bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor.
Di sisi lain, BMKG memprediksi musim kemarau di Indonesia akan mulai terjadi pada April 2026 yang kemungkinan diawali dari wilayah Nusa Tenggara. Puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus 2026, dengan kondisi yang berpotensi lebih kering dan lebih panjang dibandingkan kondisi normal di beberapa wilayah.
BACA JUGA
