Nyepi 2026, BKSDA Bali Tutup Sementara Empat Kawasan Wisata Alam
Jakarta, sustainlifetoday.com – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Bali akan menutup sementara sejumlah kawasan wisata alam dalam rangka menghormati perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948 yang jatuh pada 19 Maret 2026.
Penutupan tersebut berlaku untuk kegiatan wisata alam, penelitian, maupun pendidikan di beberapa kawasan konservasi di Bali.
Kepala BKSDA Bali Ratna Hendratmoko mengatakan kebijakan ini merujuk pada pengumuman Nomor PG.1/K.23/TU/KSA.01.04/B/03/2026 tentang penutupan sementara kunjungan ke kawasan hutan konservasi pada masa libur nasional dan cuti bersama Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1948.
“Penutupan sementara diberlakukan pada empat kawasan Taman Wisata Alam (TWA),” kata Ratna dalam keterangan tertulisnya, Rabu (11/3).
Empat kawasan TWA yang ditutup sementara tersebut meliputi TWA Danau Buyan–Danau Tamblingan di Kabupaten Tabanan, TWA Panelokan di Kabupaten Bangli, TWA Gunung Batur Bukit Payang di Kabupaten Bangli, serta TWA Sangeh di Kabupaten Badung, Bali.
Penutupan kunjungan akan berlangsung selama tiga hari, mulai Rabu hingga Jumat atau pada 18–20 Maret 2026. Kawasan tersebut akan kembali dibuka untuk publik pada Sabtu, 21 Maret 2026 pukul 09.00 WITA.
BACA JUGA
- Mengurai Indonesia Emas 2045, Mengapa Produktivitas Jauh Lebih Berharga Daripada Sekadar Keringat?
- Perusakan Hutan Baluran Diungkap, Kemenhut Tangkap Aktor Kunci Pembalakan Liar
- Dorong Transparansi ESG, UI GreenMetric dan KLH Bahas Sistem Pemeringkatan Korporasi
Penutupan sementara ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan terhadap pelaksanaan Catur Brata Penyepian dalam Hari Raya Nyepi, yang meliputi Amati Geni (tidak menyalakan api atau cahaya), Amati Karya (tidak bekerja), Amati Lelungan (tidak bepergian), serta Amati Lelanguan (tidak bersenang-senang).
Menurut Ratna, momentum Nyepi juga memberikan kesempatan bagi ekosistem alam untuk beristirahat dari aktivitas manusia.
“Momentum Nyepi juga menjadi kesempatan bagi alam untuk beristirahat sejenak dari aktivitas kunjungan wisata, sehingga ekosistem kawasan konservasi dapat pulih dan tetap terjaga kelestariannya,” imbuhnya.
Ratna Hendratmoko juga mengajak masyarakat dan wisatawan untuk menghormati pelaksanaan Hari Raya Nyepi sekaligus menjaga harmoni antara alam dan budaya di Bali.
Selain itu, BKSDA Bali berharap dukungan dari masyarakat dan wisatawan untuk mematuhi kebijakan penutupan sementara tersebut agar kawasan konservasi tetap terjaga kelestariannya dan memberikan manfaat berkelanjutan bagi lingkungan, budaya, serta masyarakat.
“Balai KSDA Bali sepenuh hati menjaga alam, sepenuh hati menghormati budaya Bali, demi harmoni dan kenyamanan bersama,” ujarnya.
BACA JUGA
