AS Cabut Dukungan, PBB: Perjuangan Iklim Tak Akan Berhenti
Jakarta, sustainlifetoday.com — Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, Antonio Guterres, menegaskan bahwa kerja sama global antarnegara anggota akan tetap berjalan meski Amerika Serikat (AS) memutuskan mundur dari puluhan organisasi internasional. Ia menekankan sistem PBB akan terus melaksanakan seluruh mandatnya, terutama bagi kelompok masyarakat global yang paling bergantung pada kerja multilateral.
“Perserikatan Bangsa-Bangsa memiliki tanggung jawab untuk memberikan yang terbaik bagi mereka yang bergantung pada kami. Kami akan terus menjalankan mandat kami dengan penuh tekad,” kata Guterres, dikutip dari UN News, Senin (12/1).
Pernyataan ini disampaikan menyusul keputusan Presiden AS Donald Trump yang mengumumkan penarikan negaranya dari 66 organisasi internasional, termasuk penghentian pendanaan ke 31 badan PBB dan 35 organisasi non-PBB.
Kebijakan tersebut ditegaskan melalui Memorandum Presiden yang diterbitkan Rabu (7/1), yang mengarahkan seluruh departemen dan lembaga eksekutif AS untuk segera menarik diri dari berbagai organisasi, konvensi, dan perjanjian internasional yang dinilai bertentangan dengan kepentingan nasional.
Guterres menjelaskan bahwa anggaran organisasi PBB disepakati oleh Majelis Umum dan bersifat mengikat bagi seluruh negara anggota sesuai Piagam PBB. Namun, untuk tahun 2026, anggaran reguler PBB disepakati sebesar 3,45 miliar dolar AS—turun signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Kondisi ini memaksa PBB melakukan pengurangan sumber daya keuangan hingga 15 persen serta pemangkasan staf hampir 19 persen.
Menurut memorandum AS, keputusan tersebut berdampak pada 31 badan dan entitas PBB, termasuk United Nations Population Fund yang berfokus pada kesehatan ibu dan anak serta pencegahan kekerasan seksual dan berbasis gender, serta United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) yang menjadi tulang punggung kerja sama global dalam penanganan perubahan iklim.
Baca Juga:
- Tiongkok Krisis Air Akibat Terlalu Gencar Lakukan Penghijauan, Kok Bisa?
- Studi: Setiap Detik, Bumi Kehilangan Air Tawar Setara 4 Kolam Olimpiade
- Produksi Pangan & Energi Fosil Bikin Dunia Rugi Rp83 Triliun Tiap Jam
Daftar tersebut juga mencakup UN Democracy Fund serta sejumlah kantor Sekretariat PBB yang menangani isu anak dalam konflik bersenjata dan penghapusan kekerasan seksual sebagai senjata perang, serta empat dari lima komisi regional PBB di Asia-Pasifik, Asia Barat, Afrika, dan Amerika Latin-Karibia.
“Bagi entitas PBB, penarikan diri berarti menghentikan partisipasi atau pendanaan kepada entitas tersebut sejauh yang diizinkan oleh hukum,” demikian bunyi memorandum tersebut.
Kemunduran Kerja Sama Iklim Global
Di sisi lain, Sekretaris Eksekutif UNFCCC Simon Stiell menilai langkah AS sebagai kemunduran serius bagi kerja sama iklim global.
“Amerika Serikat berperan penting dalam menciptakan Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim dan Perjanjian Paris, karena keduanya sepenuhnya sesuai dengan kepentingan nasionalnya,” ungkap Stiell.
“Sementara semua negara lain melangkah maju bersama, langkah mundur terbaru dari kepemimpinan global, kerja sama iklim, dan sains ini hanya akan merugikan ekonomi, lapangan kerja, dan standar hidup AS, karena kebakaran hutan, banjir, badai besar, dan kekeringan semakin memburuk dengan cepat,” imbuhnya.
Meski demikian, Stiell menegaskan UNFCCC akan tetap melanjutkan mandatnya tanpa dukungan AS. “Pintu tetap terbuka bagi AS untuk bergabung kembali di masa mendatang, seperti yang telah dilakukan di masa lalu dengan Perjanjian Paris,” tuturnya.
