Antisipasi Dampak Kekeringan El Nino, BMKG Masifkan Operasi Modifikasi Cuaca
Jakarta, sustainlifetoday.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengintensifkan operasi modifikasi cuaca guna menjaga ketersediaan air di sejumlah wilayah strategis. Langkah mitigasi ekologis ini diambil sebagai bentuk antisipasi menghadapi musim kemarau panjang yang beriringan dengan fenomena anomali iklim El Nino.
Selepas menghadiri Dialog Nasional Dampak El Nino di Kantor Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas, Jakarta, Selasa (4/8), Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG Tri Handoko Seto memperingatkan bahwa penyusutan curah hujan akibat El Nino berdampak langsung pada menyusutnya pasokan air yang masuk ke waduk-waduk di Indonesia.
Padahal, infrastruktur sumber daya air tersebut memegang peran krusial dalam menyokong kebutuhan dasar masyarakat, mulai dari penyediaan air baku, irigasi pertanian, hingga operasional Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) yang mendukung transisi energi.
“Oleh karena itu, BMKG bekerja sama dengan para pemangku kepentingan, pengelola waduk, Kementerian Pekerjaan Umum, dan pihak terkait lainnya melaksanakan operasi modifikasi cuaca untuk menambah pasokan air waduk,” kata Tri.
Lebih lanjut, Tri memaparkan bahwa operasi rekayasa cuaca ini telah dieksekusi di sejumlah titik untuk mendukung ketersediaan air, khususnya di wilayah tangkapan air yang menopang sektor energi nasional seperti Danau Toba di Sumatera Utara dan Danau Poso di Sulawesi Tengah.
“Saat ini kami sedang melaksanakan operasi di Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum, Jawa Barat, supaya pasokan energi, air, dan kebutuhan pertanian dapat terjaga dengan baik,” ujarnya.
Selain mengamankan cadangan air baku, Tri menambahkan bahwa operasi modifikasi cuaca juga menjadi instrumen mitigasi penting terhadap ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di tengah kondisi kemarau yang lebih kering.
Menyusutnya curah hujan mengakibatkan pasokan air ke kubah gambut menurun drastis, sementara proses penguapan terus berlanjut. Kondisi ini membuat lahan gambut kehilangan kelembapannya dan menjadi sangat rentan tersulut api.
BACA JUGA
- Penurunan Populasi Ikan Kakatua Ancam Keberlanjutan Ekosistem Terumbu Karang Indonesia
- Lonjakan Kekeringan Capai 90 Persen, Pemerintah Optimalkan Infrastruktur Pengelolaan Air
- Masuk Pidana Lingkungan, Pemkot Bandung Gandeng KLH Usut Kasus Penebangan Pohon
“Untuk mitigasi itu juga dilakukan operasi modifikasi cuaca dengan metode pembasahan lahan gambut agar tetap basah sehingga sulit dibakar, apalagi terbakar,” katanya.
Intervensi iklim ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto dalam rapat terbatas bersama jajaran Kabinet Merah Putih di Istana Merdeka, Jakarta, pada Selasa (28/7) lalu.
Dalam pertemuan khusus untuk meredam dampak musim kemarau dan El Nino tersebut, Presiden secara tegas menginstruksikan seluruh jajaran pemerintah untuk melakukan langkah antisipasi terpadu guna menjamin ketersediaan air dan mencegah bencana kebakaran hutan serta lahan.
