WMO Peringatkan Puncak El Nino Kategori “Sangat Kuat” Terjadi Akhir Tahun Ini
JAKARTA, SustainLifeToday.com — Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memproyeksikan fenomena cuaca El Nino akan mencapai puncaknya pada akhir tahun ini dengan kategori yang sangat kuat. Meskipun merupakan fenomena iklim alami, rentetan dampak cuaca ekstrem dari El Nino dipastikan akan bertahan hingga Februari 2027 akibat pelepasan perlahan panas yang tersimpan di lautan ke atmosfer.
Para ilmuwan menegaskan bahwa fenomena ini akan memperparah kondisi pemanasan global yang sebelumnya telah didorong oleh masifnya pembakaran bahan bakar fosil, sehingga memicu cuaca ekstrem dengan intensitas yang lebih hebat.
“El Nino kini makin membesar di depan mata kita,” ujar Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres.
Ia menyoroti bahwa sains telah membuktikan bumi kini berada di teritori yang belum pernah terjamah, di mana lonjakan suhu udara dan memanasnya lautan menempatkan dunia di zona bahaya cuaca ekstrem.
BACA JUGA
- SIG Hadirkan Inovasi Semen Hijau dengan Emisi 38 Persen Lebih Rendah
- Cegah Tabrakan Kapal, PIS Manfaatkan Teknologi Satellite Tag untuk Konservasi Hiu Paus
- Kemenhut Upayakan Repatriasi Lima Bayi Orangutan Korban Penyelundupan dari India
“Perlombaan kita saat ini adalah antara risiko yang makin meningkat dan komitmen kita untuk mengambil aksi iklim serta melindungi masyarakat. Kita harus memenangkan perlombaan itu,” ungkap Guterres.
Senada dengan hal tersebut, Kepala WMO Celeste Saulo memperingatkan bahwa El Nino kali ini berpotensi memberikan pukulan besar bagi ketahanan masyarakat maupun perekonomian di seluruh dunia.
“Kita sudah menyaksikan gangguan dan kehancuran akibat kekeringan dan banjir, dan kita memperkirakan dampak-dampak ini akan makin parah seiring menguatnya El Niño,” katanya.
Merespons ancaman tersebut, Saulo mendesak otoritas penanggulangan bencana beserta sektor-sektor yang rentan terhadap anomali iklim—seperti pertanian, kesehatan, energi, dan air—untuk segera bersiap tanpa membuang waktu.
Sebagai siklus yang terjadi setiap dua hingga tujuh tahun sekali dengan durasi 9-12 bulan, El Nino menyebabkan pemanasan suhu permukaan air di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur. Kondisi ini secara langsung mengubah pola angin, tekanan udara, dan distribusi curah hujan global, bergantian dengan fase pendinginan La Nina.
“Didorong oleh suhu lautan yang sangat panas di seluruh Pasifik tropis, El Niño diperkirakan akan makin menguat dalam beberapa bulan mendatang hingga mencapai tingkat yang sangat kuat,” ungkap WMO.
Lembaga PBB tersebut diketahui mengklasifikasikan tingkat keparahan El Nino ke dalam empat rentang: lemah, sedang, kuat, dan sangat kuat. Fenomena yang tengah berlangsung ini diprediksi akan mencapai tingkat tertinggi dari keempat kategori tersebut.
