Ancaman El Nino, WFP Proyeksikan 49 Juta Orang Berisiko Jatuh ke Jurang Kerawanan Pangan
Jakarta, sustainlifetoday.com – Fenomena iklim El Nino periode 2026-2027 diprediksi akan memperburuk krisis pangan global secara signifikan. Badan tanggap darurat pangan PBB, World Food Programme (WFP), memproyeksikan fenomena ini berpotensi mendorong 49 juta orang tambahan ke dalam kondisi kerawanan pangan akut. Lonjakan tersebut diperkirakan membuat total populasi dunia yang berada dalam status darurat pangan mencapai 274 juta orang pada 2027—sebuah angka fantastis yang setara dengan seluruh populasi Indonesia.
Kerawanan pangan akut sendiri didefinisikan sebagai kondisi di mana seseorang tidak memiliki akses yang cukup terhadap pangan, sehingga mengancam kesehatan, mata pencaharian, maupun kelangsungan hidupnya dan memerlukan intervensi segera. Kombinasi cuaca ekstrem akibat El Nino dan ketidakstabilan ekonomi serta konflik berkepanjangan berisiko memberikan pukulan ganda bagi negara-negara rentan.
“El Nino merupakan ancaman besar bagi ketahanan pangan jutaan orang yang sudah rentan,” kata Pelaksana Tugas Direktur Eksekutif WFP Carl Skau, dikutip dari laman resmi WFP, Kamis (6/8).
Peta Kerentanan Global
Berdasarkan analisis WFP terhadap 45 negara rawan pangan yang berisiko terdampak paling parah, wilayah Amerika Latin dan Karibia diproyeksikan mengalami kenaikan angka kerawanan pangan paling tajam, dengan tambahan lebih dari 16 juta orang terdampak. Di Amerika Tengah, proporsi penduduk yang menghadapi krisis pangan akut diperkirakan melonjak hingga 83 persen dari kondisi saat ini.
Sementara itu, di wilayah Afrika Timur dan Afrika Selatan, lebih dari 18 juta orang tambahan berpotensi jatuh ke dalam kerawanan pangan akut. “Negara-negara Afrika Selatan sangat rentan karena banyak rumah tangga bergantung pada pertanian subsisten yang mengandalkan curah hujan,” demikian laporan resmi WFP.
Ancaman ini juga membayangi wilayah Afrika Barat dan Afrika Tengah dengan potensi tambahan 6 juta orang terdampak, serta kawasan Asia dan Pasifik yang diperkirakan mencatat 8,2 juta orang tambahan yang menghadapi kerawanan pangan akut.
BACA JUGA
- IFCH Resmi Diluncurkan, Pakar UGM Ingatkan Perdagangan Karbon Bukan Alat Greenwashing
- BPK Tegaskan Pentingnya Tata Kelola ESG dan Government 5.0 untuk Wujudkan Indonesia Emas
- Atasi Krisis Sampah Perkotaan, Danantara Buka Seleksi Mitra Proyek Energi Bersih PSEL
Fenomena El Nino diperkirakan mencapai puncaknya pada rentang September hingga Desember 2026, dengan dampak yang berpotensi bertahan hingga 2027 di beberapa wilayah. Menghadapi ancaman ini, langkah mitigasi dinilai sangat mendesak.
“WFP telah meningkatkan upaya respons awal di delapan negara dan kami siap untuk melakukan lebih banyak lagi,” ujar Carl.
Sejak Mei, WFP telah memelopori aksi antisipatif di berbagai negara rentan seperti Sudan Selatan, Chad, Mauritania, Uganda, Guatemala, dan El Salvador. Upaya ini mencakup penyaluran bantuan senilai lebih dari US$14 juta (sekitar Rp250 miliar) yang menyasar sekitar 500 ribu jiwa.
WFP menekankan pentingnya pendekatan pre-emptif dalam menghadapi krisis iklim. Berdasarkan rekam jejak peristiwa El Nino sebelumnya, setiap investasi US$1 yang dialokasikan untuk aksi antisipatif terbukti mampu menghemat biaya kerugian dan respons kemanusiaan sebesar US$3 hingga US$7.
Guna memperkuat ketahanan masyarakat lokal, WFP bekerja sama dengan Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) PBB serta jaringan mitra global kini tengah menyiapkan aksi antisipatif di lebih dari 50 negara untuk mendampingi pemerintah dan komunitas lokal dalam menghadapi dampak perubahan iklim global ini.
