Analisis CREA: Polusi Udara dan Karhutla Pemicu 3.700 Kematian di Indonesia Selama Agustus
JAKARTA, SustainLifeToday.com — Lonjakan krisis kualitas udara sepanjang Agustus 2026 berujung fatal bagi kesehatan publik di Indonesia. Analisis terbaru dari Center for Research on Energy and Clean Air (CREA) bertajuk Choking on inaction: Indonesia’s fires led to 1,700 deaths in August — but regular air pollution even more mengestimasikan sebanyak 3.700 orang meninggal dunia akibat polusi udara dalam satu bulan tersebut, di mana 1.700 jiwa di antaranya berkaitan langsung dengan insiden kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Laporan CREA mengungkapkan bahwa warga di Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Selatan menghadapi risiko kematian 3 hingga 4 kali lebih tinggi dibandingkan warga di Pulau Jawa akibat kepulan asap karhutla. Konsentrasi PM2,5 di wilayah Kalimantan melonjak 6 kali lipat dari 20 mikrogram per meter kubik menjadi 120 mikrogram per meter kubik sepanjang Agustus, yang menyebabkan 69 persen populasi Kalimantan terpapar udara tidak sehat. Lebih dari 90 persen kematian akibat polusi di tiga provinsi tersebut dipicu oleh asap karhutla.
“Tanpa karhutla tahun ini, provinsi-provinsi ini tak masuk dalam daftar karena rendahnya kasus kematian akibat polusi non-karhutla,” demikian tertulis dalam analisis CREA, dikutip Senin (14/9/2026).
Krisis ini berdampak pada melonjaknya kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Data Kementerian Kesehatan per 28 Agustus mencatat 10,6 juta penduduk di tujuh provinsi (Kalbar, Kalteng, Kalsel, Kaltim, Jambi, Riau, dan Sumsel) mengalami gangguan kesehatan akibat pencemaran udara. CREA mencatat titik puncak paparan terjadi pada 18 Agustus, di mana 41 juta warga Indonesia menghirup udara tidak sehat hingga berbahaya.
CREA turut mengingatkan bahwa krisis karhutla berpotensi memburuk karena puncak musim kebakaran secara historis terjadi pada akhir September hingga November.
“Secara historis, puncak karhutla berada pada akhir September hingga November, sehingga yang terjadi pada Agustus merupakan awal dari krisis yang lebih besar apabila tidak ditangani dengan serius,” tulis CREA.
Di sisi lain, polusi udara kronis non-karhutla tetap menjadi penyumbang angka kematian tertinggi secara nasional, yakni mencapai 2.000 jiwa pada Agustus. Pulau Jawa mencatatkan angka kematian tertinggi akibat polusi harian ini sebanyak 1.600 jiwa, yang didominasi wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah, DKI Jakarta, dan Banten. Sektor pembangkit listrik fosil, industri, dan transportasi menyumbang 90 persen kematian akibat polusi non-karhutla tersebut.
BACA JUGA
- OJK Wajibkan Implementasi TKBI Sektor Keuangan, Masukkan Metrik HAM dan Aspek Sosial
- KLH Dorong Industri Nikel Susun Peta Jalan NZE untuk Manfaatkan Nilai Ekonomi Karbon
- Hanya 2 Persen Terapkan ESG Global, Pemerintah Godok Panduan Ekivalensi Tambang Nasional
Analis CREA, Katherine Hasan, menegaskan bahwa perhatian publik yang terfokus pada asap karhutla sering kali mengaburkan krisis polusi udara kronis yang mengancam masyarakat sepanjang tahun.
“Kondisi ini menunjukkan bahwa kebijakan atau perencanaan di sektor energi, tata guna lahan, dan ekonomi masih sering dibuat tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap kualitas udara dan batas aman bagi kesehatan masyarakat,” kata Katherine dikutip dari siaran pers, Senin (14/9/2026).
Katherine menekankan bahwa situasi darurat ini harus menjadi momentum krusial bagi pemerintah untuk melakukan pembenahan regulasi secara mendasar.
“Pemerintah tak lagi bisa mengabaikan seruan ini, terlebih di tengah situasi saat ini,” tegasnya.
