Anggota DPR RI Sebut Laut Penghasil Oksigen Terbesar Dunia, Ini Kenyataanya!
Jakarta, sustainlifetoday.com — Pernyataan Anggota DPR RI Victor Bungtilu Laiskodat yang menyebut laut sebagai penghasil oksigen terbesar di dunia memicu perdebatan luas di ruang publik. Ucapan tersebut ramai diperbincangkan di media sosial, terutama setelah Victor juga menyinggung mencairnya es di kutub sebagai sesuatu yang ia nilai positif.
Pernyataan ini menuai kritik dari kalangan pemerhati lingkungan dan akademisi yang menilai narasi tersebut berpotensi menyederhanakan persoalan krisis iklim yang kompleks dan saling terkait.
Secara ilmiah, klaim bahwa laut berkontribusi besar terhadap produksi oksigen memang memiliki dasar kuat. Laut menghasilkan oksigen melalui aktivitas fitoplankton, organisme mikroskopis seperti alga dan cyanobacteria yang melakukan fotosintesis di lapisan atas perairan.
Berbagai kajian menyebut fitoplankton menyumbang sekitar 50 persen atau lebih oksigen global, menjadikannya komponen vital dalam siklus kehidupan di Bumi. Dengan luas laut yang mencapai lebih dari 70 persen permukaan planet, peran ekosistem laut dalam menopang atmosfer memang sangat signifikan.
Namun, para ahli menekankan bahwa angka tersebut tidak bisa dijadikan alasan untuk mengecilkan peran ekosistem lain.
Hutan Tetap Krusial dalam Sistem Penyangga Kehidupan
Pemerhati lingkungan menegaskan bahwa hutan tidak hanya berperan sebagai penghasil oksigen, tetapi juga sebagai penyerap karbon dioksida (carbon sink), pengatur iklim regional, penjaga siklus hidrologi, serta habitat bagi keanekaragaman hayati darat.
Tanpa hutan yang sehat, konsentrasi gas rumah kaca akan meningkat, yang pada akhirnya juga berdampak pada suhu laut dan keberlangsungan fitoplankton itu sendiri.
Bagian lain dari pernyataan Victor yang menuai sorotan adalah anggapannya bahwa mencairnya es di kutub merupakan hal positif. Pandangan ini dinilai problematis karena bertentangan dengan konsensus ilmiah global.
Pencairan es di kutub merupakan salah satu indikator paling nyata dari krisis iklim, yang memicu kenaikan permukaan laut, perubahan arus laut, serta gangguan ekosistem global. Dampaknya sangat relevan bagi negara kepulauan seperti Indonesia, yang menghadapi risiko tenggelamnya wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.
Selain itu, pemanasan laut akibat mencairnya es justru berpotensi mengganggu ekosistem fitoplankton. Jika organisme ini terdampak, kemampuan laut dalam memproduksi oksigen bisa menurun, memperburuk krisis lingkungan secara keseluruhan.
Krisis Iklim Bersifat Sistemik
Para pemerhati lingkungan mengingatkan bahwa krisis iklim bukanlah isu sektoral. Laut, hutan, dan atmosfer membentuk satu sistem yang saling terhubung. Gangguan pada satu elemen akan memicu efek berantai pada elemen lainnya.
Penyederhanaan narasi lingkungan, apalagi oleh pejabat publik, dikhawatirkan dapat memengaruhi persepsi masyarakat dan arah kebijakan nasional secara keliru.
Kejadian ini pada dasarnya menegaskan kembali tentang pentingnya literasi sains dan kehati-hatian dalam komunikasi publik, terutama bagi pengambil kebijakan. Pernyataan yang disampaikan ke ruang publik tidak hanya membentuk opini, tetapi juga dapat berdampak pada legitimasi kebijakan lingkungan di masa depan.
