PBB Peringatkan Dampak Ganda Krisis Iklim Terhadap Kualitas Udara dan Kesehatan Manusia
JAKARTA, SustainLifeToday.com — Para pakar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyoroti ancaman serius dari krisis iklim, berupa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta gelombang panas, yang merusak progres perbaikan kualitas udara global. Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) dalam laporan terbarunya memperingatkan bahwa keberhasilan sejumlah wilayah dalam menekan emisi fosil kini dihadapkan pada ancaman baru berupa asap karhutla dan lonjakan ozon permukaan akibat panas ekstrem.
Fenomena ini membuktikan adanya lingkaran setan antara perubahan iklim dan polusi udara. Pemanasan global meningkatkan frekuensi cuaca ekstrem yang kemudian memproduksi polutan, memperburuk kualitas udara, sekaligus kembali memanaskan iklim.
“Kualitas udara dan iklim tidak bisa diperlakukan sebagai subjek terpisah; keduanya sangat saling terkait dan mempengaruhi satu sama lain,” kata ilmuwan WMO Lorenzo Labrador, seperti dikutip The Guardian.
Diterbitkan bertepatan dengan Hari Udara Bersih Internasional, laporan tahunan WMO ini membeberkan ancaman kesehatan akut dari paparan polutan karhutla. Asap karhutla yang membawa partikel berukuran sangat kecil mampu memicu tekanan oksidatif pada tubuh manusia dan berkontribusi terhadap berbagai gangguan kesehatan.
“Hasil tinjauan sistematik dan penelitian eksperimental konsisten menunjukkan keterkaitan antara paparan asap karhutla dengan meningkatnya serangan asma, perawatan Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK), lonjakan konsumsi obat pernapasan, dan berdampak pada kesehatan mental dan kelahiran,” kata WMO dalam laporan tersebut.
WMO mencatat aktivitas karhutla di seluruh dunia telah melonjak sekitar tiga kali lipat sejak 1990 dan dikaitkan dengan sekitar 100 ribu kematian per tahun sepanjang periode 2010-2018. Selain karhutla, ancaman serius lainnya adalah polusi ozon permukaan yang terbentuk ketika emisi industri dan kendaraan bermotor bereaksi dengan sinar matahari—konsentrasinya meningkat tajam saat gelombang panas berkepanjangan.
“Ozon adalah oksidan yang sangat kuat, jadi begitu sampai di paru-paru, pada dasarnya ozon mengoksidasi jaringan paru-paru dan menyebabkan peradangan serta masalah peredaran darah, dan akhirnya masalah jantung,” kata Labrador.
BACA JUGA
- SIG Hadirkan Inovasi Semen Hijau dengan Emisi 38 Persen Lebih Rendah
- Emisi Karhutla Indonesia Tembus 19,7 Juta Ton dan Jadi Tertinggi di Dunia
- Kemenhut Upayakan Repatriasi Lima Bayi Orangutan Korban Penyelundupan dari India
Di wilayah berpolusi tinggi, paparan ozon jangka panjang kini berkontribusi pada sekitar satu dari lima kematian akibat PPOK. WMO juga mencatat bahaya konsentrasi partikel halus PM2,5 dari industri fosil, pertanian, hingga karhutla, yang mampu menembus jauh ke aliran darah.
Di atmosfer, gabungan partikel dan tetesan ini (aerosol) dapat memengaruhi sistem iklim dengan mengubah sifat serta kecerahan awan. Saat mengendap di permukaan bumi sebagai karbon hitam (jelaga), polutan ini menggelapkan permukaan salju dan es, menurunkan kemampuan memantulkan radiasi matahari, dan mempercepat laju pencairan yang memperparah pemanasan global.
Oleh karena itu, Labrador menegaskan bahwa penyelesaian krisis perubahan iklim dan kualitas udara harus ditangani secara bersamaan.
“Hal itu sebenarnya tidak terlalu sulit karena jika Anda mengurangi emisi gas rumah kaca, Anda juga mengurangi emisi zat-zat yang merusak kualitas udara, dan itu membawa saya pada solusi terbaik yang ada, yaitu mengurangi emisi gas rumah kaca global dan pembakaran bahan bakar fosil,” katanya.
