Laporan: 99 Persen Konsumen Indonesia Peduli Lingkungan, Gen Z Catatkan Angka Mutlak
JAKARTA, SustainLifeToday.com — Indonesia mengukuhkan posisinya sebagai salah satu negara dengan tingkat keterlibatan konsumen terhadap keberlanjutan lingkungan tertinggi di dunia. Berdasarkan riset terbaru dari perusahaan konsultasi manajemen global Bain & Company, sebanyak 99 persen konsumen Indonesia menyatakan peduli terhadap keberlanjutan lingkungan, di mana seluruh responden dari kelompok Gen Z yang disurvei mencatatkan angka kepedulian mutlak.
Temuan ini dipaparkan dalam laporan bertajuk Visionary CEO’s Guide to Sustainability edisi keempat yang dirilis pada September 2026. Laporan tersebut menegaskan bahwa kepedulian masyarakat terhadap isu lingkungan terus meningkat, meski alokasi investasi dan komersialisasi teknologi hijau global masih berjalan tidak merata.
Partner dan Head of Sustainability Practice APAC di Bain & Company, Dominik Utama, mengungkapkan bahwa tingginya kepedulian konsumen di Indonesia menjadi momentum berharga bagi sektor privat untuk menghadirkan produk yang memadukan nilai keberlanjutan dengan kebutuhan riil masyarakat.
“Indonesia menonjol sebagai salah satu pasar konsumen dengan tingkat keterlibatan terhadap keberlanjutan tertinggi yang pernah kami lihat, dengan 99 persen konsumen peduli terhadap keberlanjutan lingkungan dan seluruh responden Gen Z Indonesia yang kami survei memiliki pandangan yang sama,” kata Dominik dalam pernyataannya, Senin (14/9/2026).
Dominik menambahkan, faktor kesehatan kini menjadi salah satu pertimbangan utama konsumen dalam mengambil keputusan pembelian produk ramah lingkungan. Selain itu, penetrasi teknologi digital seperti kecerdasan buatan (AI) turut memicu akselerasi pilihan berkelanjutan. Sebanyak 83 persen pengguna AI di Indonesia yang disurvei Bain mengaku memanfaatkan teknologi tersebut untuk membantu menentukan pilihan hidup yang lebih hijau—hampir dua kali lipat melebihi rata-rata global.
“Pelaku usaha yang mampu menjawab kebutuhan konsumen pada titik temu antara kesehatan, aspek digital, dan keberlanjutan inilah yang akan memenangkan persaingan,” ujar Dominik.
BACA JUGA
- PBB Peringatkan Dampak Ganda Krisis Iklim Terhadap Kualitas Udara dan Kesehatan Manusia
- WMO Peringatkan Puncak El Nino Kategori “Sangat Kuat” Terjadi Akhir Tahun Ini
- Hanya 2 Persen Terapkan ESG Global, Pemerintah Godok Panduan Ekivalensi Tambang Nasional
Secara global, survei yang melibatkan 7.500 responden di Amerika Serikat, Inggris, Italia, Brasil, dan Indonesia menunjukkan bahwa 85 persen konsumen peduli terhadap keberlanjutan lingkungan pada 2026, naik dari 79 persen pada tahun sebelumnya. Ketakutan akan ancaman cuaca ekstrem seperti gelombang panas, banjir, dan karhutla menjadi pendorong utama, di mana konsumen global tercatat bersedia membayar rata-rata 18 persen lebih mahal (hingga 24 persen jika memberi manfaat kesehatan langsung) untuk produk-produk yang berkelanjutan.
Namun, laporan Bain juga menggarisbawahi adanya ketimpangan (divergence) pada investasi teknologi hijau global. Meski akumulasi investasi teknologi berkelanjutan mencapai rekor 2,4 triliun dolar AS pada 2025, sekitar 90 persen dana tersebut hanya mengalir ke tiga sektor: energi hijau, bangunan, dan mobilitas. Sementara sektor pertanian, manufaktur material, serta modal alam yang menyumbang 37 persen emisi gas rumah kaca global justru menerima porsi di bawah 10 persen.
Global Head of Sustainability Bain, Jean-Charles van den Branden, menyarankan agar para pemimpin korporasi menyikapi fenomena dinamika pasar ini secara strategis untuk mengamankan keunggulan kompetitif.
“Para CEO saat ini perlu memahami era divergensi ini sebagaimana adanya: bukan sebagai tanda kegagalan, melainkan peluang untuk mengambil langkah strategis yang tepat bagi masa depan,” katanya.
Bain menyimpulkan bahwa kunci keberhasilan transisi keberlanjutan fase berikutnya terletak pada kemampuan pelaku usaha dalam menghubungkan ekspektasi konsumen, adopsi teknologi, regulasi kebijakan, permodalan, serta ketahanan aset terhadap risiko krisis iklim.
