Turki Siap Gelar COP31 Secara Mandiri Jika Kesepakatan dengan Australia Gagal
Jakarta, sustainlifetoday.com — Turki menyatakan kesiapannya menjadi tuan rumah Konferensi Perubahan Iklim PBB (COP31) secara mandiri pada 2026 jika tidak tercapai kesepakatan mengenai pembagian penyelenggaraan. Pernyataan ini disampaikan seorang sumber diplomatik Turki kepada AFP, dikutip Senin (17/11).
Hingga saat ini, Turki dan Australia masih berada dalam kebuntuan terkait penunjukan tuan rumah COP31. Sesuai aturan PBB, pemilihan tuan rumah harus dicapai melalui konsensus. Tanpa adanya penarikan diri dari salah satu pihak atau kesepakatan berbagi penyelenggaraan, kedua negara berpotensi kehilangan kesempatan menjadi tuan rumah. Keputusan akhir dijadwalkan pada COP yang sedang berlangsung di Belem, Brasil.
Jika konsensus gagal, konferensi otomatis akan digelar di Bonn, Jerman, yang merupakan lokasi sekretariat iklim PBB.
Sumber diplomatik tersebut menyampaikan bahwa pertemuan antara Türkiye dan Australia di Majelis Umum PBB pada September sebenarnya menghasilkan usulan awal terkait penyelenggaraan bersama dan pembagian pertemuan tingkat tinggi. Namun usulan tersebut ditolak melalui surat dari Perdana Menteri Australia Anthony Albanese kepada Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. Albania beralasan bahwa aturan PBB tidak mengizinkan tuan rumah bersama dan format tersebut dikhawatirkan mengalihkan fokus COP dari kawasan Pasifik.
Ankara disebut tetap mendukung pendekatan fleksibel untuk memastikan COP31 berjalan sukses.
“Türkiye terus mengadvokasi model kepresidenan bersama sebagai langkah memperkuat multilateralisme namun siap menyelenggarakan konferensi secara independen apabila konsensus tidak tercapai,” ujarnya kepada AFP.
Posisi tersebut juga telah disampaikan Erdogan melalui surat balasannya kepada Albanese.
Berdasarkan laporan Channel News Asia, sejumlah pemimpin dunia seperti Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menghadiri pembukaan COP30 di Brasil pada 6–7 November. Baik Erdogan maupun Albanese tidak hadir; Türkiye diwakili Wakil Presiden Cevdet Yilmaz, sedangkan Australia mengutus Menteri Perubahan Iklim dan Energi Chris Bowen.
Baca Juga:
- APP Group dan WWF Dorong Regenerasi Hutan Berkelanjutan di Indonesia
- PT Vale Indonesia Masuk Daftar 15 Perusahaan Tambang dengan Risiko ESG Terendah Dunia
- Transaksi AgenBRILink Tembus Rp1.294 Triliun, BRI Komitmen Dorong Keuangan Inklusif
Brasil telah menunjuk seorang perwakilan untuk membantu mencari titik temu antara Australia dan Türkiye. Namun para diplomat menyebut belum ada kemajuan menjelang penutupan COP30 pada 21 November.
Beberapa pengamat menilai hubungan dekat Turki dengan Rusia dan Arab Saudi—dua negara yang kerap dianggap menghambat kemajuan aksi iklim, dapat menjadi tantangan dalam pencalonan Türkiye sebagai tuan rumah COP31.
Sumber diplomatik tersebut menegaskan bahwa Türkiye ingin COP31 memberi perhatian khusus pada wilayah paling rentan, termasuk kemungkinan sesi tematik mengenai isu-isu Pasifik. Pencalonan Türkiye dikemas sebagai dorongan memperkuat solidaritas global dan dialog konstruktif dalam penanganan krisis iklim.
“Turki akan terus bertindak berdasarkan prinsip kerja sama dan inklusivitas, bukan persaingan, dalam memerangi perubahan iklim,” kata sumber itu, seraya mengundang semua pihak untuk memajukan proses ini dengan landasan “dialog konstruktif dan saling menghormati.”
