Bukan Sekadar Pelaporan, PHR Zona Rokan Buktikan Dampak Nyata Program Keberlanjutan
Jakarta, sustainlifetoday.com – PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona Rokan memaparkan serangkaian program unggulan keberlanjutannya dalam sesi penjurian ESG Initiative Awards (EIA) 2026 pada Rabu (4/11/2026). Presentasi ini dibawakan secara bergantian oleh perwakilan tim Community Development Officer (CDO) PHR Zona Rokan, yakni Rovdaian Baqrur Roji, Kessya Mega Putri, dan Afifah Duwi Putri.
Sesi penjurian dipandu langsung oleh Pemimpin Redaksi SustainLife Today, Ahmad Faqih Zuhair, selaku moderator, serta dievaluasi oleh panel dewan juri yang terdiri dari Chairman of the Sustainability & Climate Change Committee Ikatan Nasional Konsultan Indonesia (INKINDO) Herry Putranto, Mantan Ketua Komite Nasional Kebijakan Governansi (KNKG) Dr. Mas Achmad Daniri, serta jurnalis senior di bidang sustainability Hasanuddin. Dalam pemaparannya, tim PHR menyoroti tiga inisiatif utama yang mencakup inklusi sosial, ketahanan pangan berbasis sirkular, dan adaptasi iklim melalui perhutanan sosial.
Dalam pilar sosial, PHR memperkenalkan Program Pemberdayaan Komunitas Penyandang Disabilitas Pertamina (Pemko Pesmina) di Pekanbaru. Program ini telah memberdayakan ratusan penyandang disabilitas melalui peningkatan kapasitas, mulai dari pelatihan barista, pastry and bakery, hingga content creator. Implementasi paling menonjol dari program ini adalah pendirian “Kafe Ruang Setara” yang tidak hanya menyerap tenaga kerja tunarungu, tetapi juga mencatat peningkatan rata-rata pendapatan pekerjanya dari nol menjadi antara Rp1.500.000 hingga Rp3.500.000 per bulan.

Untuk mengatasi isu stunting dan kemiskinan di 7 Kabupaten/Kota di Riau, PHR menggulirkan Program Perikanan Riau yang menjangkau 20 desa. Program ini tidak hanya berfokus pada budidaya, melainkan integrasi hulu-hilir berbasis kelestarian. Inovasi Integrated Feed & Market System dalam program ini sukses mengolah limbah ikan rucah dan solid sawit menjadi pakan mandiri, menekan biaya operasional kelompok hingga 40%. Program ini terbukti berhasil meningkatkan kesejahteraan pembudidaya ikan berskala kecil sekaligus menekan jejak karbon dari transportasi pakan komersial.
PHR turut mengamankan wilayah operasional dari risiko Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) melalui Program Perhutanan Sosial di Kota Dumai. Dengan merangkul Kelompok Tani Hutan (KTH) Bagan Besar Jaya, PHR memanfaatkan 47 hektare lahan gambut untuk budidaya nanas dan penanaman pohon pinang dengan metode Pembukaan Lahan Tanpa Bakar (PLTB) atau zero-burning. Langkah adaptasi iklim ini diklaim mampu menahan emisi karbon sebesar 34.075 ton CO2e/ha dan terbukti menjaga area program berada pada nol titik panas (hotspot).
BACA JUGA
- SustainLife Today Kembali Gelar ESG Initiative Awards 2026, Sambut Efektivitas Regulasi Baru OJK
- OJK Perketat Aturan Pelaporan 2027, Korporasi Dituntut Buktikan Dampak ESG Terukur
- Tuntutan Transparansi Menguat, Kepemimpinan Korporasi Kini Diuji Lewat Dampak ESG Terukur
Hal yang menjadi sorotan dewan juri adalah keberlanjutan program setelah bantuan perusahaan ditarik (exit strategy). Merespons hal tersebut, Afifah Duwi Putri, salah satu representasi PHR dalam penjurian menegaskan bahwa pengawasan tetap dilakukan.
“Meskipun sudah ada kelompok yang exit, kami tetap rutin melakukan monitoring untuk memastikan keberlanjutannya. Kami ingin memastikan bahwa seluruh pelatihan maupun sarana prasarana yang telah diberikan tetap dimanfaatkan, yang ujung-ujungnya akan berkontribusi langsung pada perputaran ekonomi,” jelas Afifah usai penjurian.
Sebagai informasi, memasuki penyelenggaraan tahun ketiga sejak perdana digelar pada 2024 dan dilanjutkan pada 2025, ajang ESG Initiative Awards 2026 mengusung tema “Beyond Reporting Toward Measurable Outcomes”. Tema ini secara khusus diangkat guna mengevaluasi sekaligus mengapresiasi capaian Environmental, Social, and Governance (ESG) korporasi serta individu profesional secara independen yang sepenuhnya berbasis data dan hasil terukur.
BACA JUGA
