MERIT Conference 2026 Desak Penguatan Sistem MRV untuk Pangkas Emisi Metana Sektor Sampah
Jakarta, sustainlifetoday.com – Upaya akselerasi pengurangan emisi gas metana dari sektor persampahan nasional membutuhkan ketersediaan sistem pengukuran yang presisi untuk memetakan sumber, besaran, serta efektivitas intervensi kebijakan di lapangan. Penguatan sistem Monitoring, Reporting, and Verification (MRV) dipandang sebagai pilar krusial agar perumusan strategi penurunan emisi berbasis pada kondisi empiris pengelolaan sampah di Indonesia.
Isu strategis tersebut menjadi fokus utama dalam MERIT Conference 2026 bertajuk “From Measurement to Mitigation: Membangun Sistem Pengurangan Metana dari Sektor Sampah” yang diselenggarakan oleh Dietplastik Indonesia, Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Bali, dan YPBB Bandung di Jakarta, Selasa (22/9/2026).
Direktur Eksekutif PPLH Bali, Catur Yudha Hariani, menegaskan bahwa paradigma penanganan sampah harus bergeser dari sekadar pembuangan akhir di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) menuju pengelolaan komprehensif dari sumbernya mengingat ancaman tumpukan sampah organik terhadap perubahan iklim.
“Pembuangan sampah ke TPA tidak bisa lagi kita anggap sebagai hal yang biasa atau solusi akhir untuk semua jenis sampah. Di saat yang sama, kita juga perlu memahami dampak iklim dari cara kita mengelola sampah,” ujar Catur.
Catur menjelaskan bahwa intervensi pengurangan metana mensyaratkan pengukuran yang akurat sejak tahap awal.
“Sampah organik yang masuk dan tertimbun di TPA dapat menghasilkan emisi metana. Dan untuk mengurangi emisi tersebut, kita perlu mengetahui terlebih dahulu berapa besar emisinya melalui pengukuran yang kredibel. Inilah yang menjadi bagian penting dari perjalanan Proyek MERIT sampai dengan fase saat ini,” katanya.
BACA JUGA
- Perluas Program ‘Recycle for Good’, SIG Perkuat Ekosistem Daur Ulang Kemasan di 5 Provinsi
- Bappenas Tegaskan Konservasi Karbon Biru Bukan Substitusi Emisi Karhutla
- TPS Konversi 25 Kendaraan Operasional ke Listrik, Tekan Biaya Operasional Hingga 60 Persen
Dalam kesempatan yang sama, Tenaga Ahli Proyek MERIT, Dr. Eng. Didin Agustian Permadi, memaparkan bahwa pengukuran emisi TPA di wilayah proyek menggunakan kombinasi data satelit, komposisi sampah, serta sensor Closed Flux Chamber (CFC). Hasil riset menunjukkan variabel musim berpengaruh signifikan terhadap tingkat emisi.
“Proses anaerobik di TPA pada musim kemarau menghasilkan flux metana yang lebih tinggi pada pengukuran yang dilakukan,” ujar Didin.
Pengukuran emisi metana juga dilakukan pada fasilitas pengolahan sampah organik komunal di luar TPA. Tenaga Ahli MERIT, Siti Ainun, mengungkapkan bahwa emisi metana dapat muncul di sepanjang rantai pengolahan tergantung pada faktor konstruksi dan operasional fasilitas.
“Pengukuran MERIT menunjukkan bahwa emisi metana dapat muncul pada berbagai sistem pengolahan sampah organik. Pada studi kasus ini, lubang kompos menunjukkan flux tertinggi di antara pengolahan organik skala komunal lainnya,” kata Siti.
Siti menggarisbawahi pentingnya kelengkapan data terpadu dalam penyusunan regulasi nasional.
“Data seperti ini penting agar kebijakan pengurangan emisi tidak hanya berfokus pada lokasi pembuangan akhir, tetapi juga mempertimbangkan kinerja pengolahan sampah di sepanjang rantai pengelolaan,” ujarnya.
Guna mendukung penelusuran data yang transparan, Proyek MERIT turut mengembangkan prototipe sistem informasi data digital berbasis verifikasi berjenjang guna melengkapi Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) dan sistem informasi daerah.
Tim Tenaga Ahli MERIT, Brandon Tjiandra, menekankan pentingnya modernisasi sistem pencatatan data persampahan.
“Dalam Proyek MERIT, data pengelolaan sampah yang terdigitalisasi dan verifikasi berjenjang dapat dicatat secara lebih terstruktur, ditelusuri asalnya, dan dikonsolidasikan sehingga lebih siap digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan,” ujar Brandon.
