BRIN Kembangkan Varietas Pisang Unggul Tahan Krisis Iklim dan Wabah
Jakarta, sustainlifetoday.com – Industri pisang global saat ini kembali menghadapi ancaman krisis mematikan akibat penyebaran strain penyakit layu Fusarium Tropical Race 4 (TR4). Penyakit ini mengintai varietas pisang Cavendish yang mendominasi konsumsi pasar internasional.
Kondisi ini mengulang sejarah kelam musnahnya varietas pisang Gros Michel dari pasar dunia pada pertengahan abad ke-20 akibat serangan wabah patogen serupa.
“Sebelumnya terdapat varietas Gros Michel yang juga pernah mendominasi pasar dunia, tetapi akhirnya musnah akibat serangan penyakit tersebut,” ujar peneliti Ahli Utama Pusat Riset Rekayasa Genetika BRIN, Prof. Enny Sudarmonowati, dilansir dari laman resmi BRIN, Selasa (8/9).
Di tengah krisis global tersebut, Indonesia yang berstatus sebagai salah satu pusat asal (center of origin) tanaman pisang serta produsen pisang terbesar ketiga di dunia memegang posisi amat strategis. Indonesia menyimpan “harta karun” kekayaan plasma nutfah berupa lebih dari 300 jenis pisang lokal serta 16 subspesies pisang liar yang tersebar hingga ke kawasan hutan Pulau Jawa.
Meskipun buah pisang liar cenderung memiliki banyak biji dan daging relatif sedikit, keanekaragaman karakter genetiknya merupakan modal penting dalam program pemuliaan dan persilangan guna menghasilkan varietas pisang baru yang adaptif terhadap krisis iklim, tahan hama, kaya nutrisi, dan tak berbiji.
BACA JUGA
- Resmi Gunakan Biodiesel B50, KAI Pangkas 9.000 Ton Emisi Karbon dalam 55 Hari
- Waspada Sebaran Gas Beracun SO2 Anak Krakatau, Badan Geologi Terbitkan Panduan Mitigasi Warga
- Erupsi Magmatik Anak Krakatau Lepaskan Gas SO2 Masif, Begini Dampak Aerosol Sulfat Bagi Suhu Bumi
“Indonesia memiliki kekayaan sumber daya yang sangat besar untuk mendukung pengembangan varietas pisang unggul,” tutur Enny.
Melalui pendekatan riset rekayasa genetika dan program pemuliaan hayati, pemanfaatan biodiversitas pisang lokal diharapkan tak hanya mengamankan ketahanan pangan nasional dari ancaman gagal panen massal, melainkan juga memposisikan Indonesia sebagai penyedia solusi komoditas pangan global.
“Jika berhasil, pengembangan ini tidak hanya memperkuat ketahanan pangan nasional, tetapi juga membuka peluang Indonesia berkontribusi dalam menjawab ancaman penyakit tanaman dan krisis iklim pada komoditas pisang dunia,” ucapnya.
