BMKG: Hampir 29 Persen Wilayah Indonesia Masuki Musim Kemarau
Jakarta, sustainlifetoday.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sebanyak 28,6 persen wilayah Indonesia atau 200 Zona Musim (ZOM) telah memasuki musim kemarau hingga akhir Mei 2026. Wilayah tersebut tersebar mulai dari sebagian Aceh, Jakarta, Jawa Barat bagian utara, Bali, hingga beberapa wilayah di Sulawesi.
Berdasarkan data BMKG per 31 Mei 2026, sebanyak 55,2 persen wilayah Indonesia atau 386 ZOM masih berada dalam musim hujan. Sementara itu, 16,2 persen atau 113 ZOM termasuk wilayah dengan pola satu musim.
Adapun wilayah yang telah memasuki musim kemarau meliputi sebagian kecil Aceh, Sumatera Utara, dan Riau, sebagian Kepulauan Riau, Banten bagian utara, sebagian Jakarta, Jawa Barat bagian utara, sebagian Jawa Tengah dan Jawa Timur, sebagian Bali, sebagian besar Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT), serta beberapa wilayah di Sulawesi, Maluku, dan Papua Selatan.
Meski demikian, BMKG mengingatkan bahwa musim kemarau tidak berarti hujan akan berhenti sepenuhnya. Musim kemarau ditandai dengan curah hujan bulanan yang rendah, yakni di bawah 50 milimeter, namun hujan masih dapat terjadi akibat berbagai faktor atmosfer dan kondisi geografis Indonesia.
Menurut BMKG, karakter Indonesia sebagai negara kepulauan yang dikelilingi perairan hangat membuat proses penguapan tetap berlangsung intensif. Kondisi ini menyediakan uap air yang dapat membentuk awan hujan meskipun wilayah tertentu telah memasuki musim kemarau.
BACA JUGA
- WMO: El Nino Berpotensi Kembali Menguat pada 2026, Risiko Cuaca Ekstrem Meningkat
- China Pecahkan Hambatan Utama “Matahari Buatan” untuk Energi Bersih
- Anak Panda Pertama Kelahiran Indonesia Resmi Diperkenalkan ke Masyarakat
Selain itu, sejumlah fenomena atmosfer tropis seperti Madden-Julian Oscillation (MJO), gelombang atmosfer, dan sirkulasi siklonik masih berpotensi memicu pertumbuhan awan hujan di berbagai daerah.
BMKG juga menjelaskan bahwa hujan konvektif masih dapat terjadi akibat pemanasan permukaan yang tinggi. Pemanasan tersebut mendorong udara naik dengan cepat dan membentuk awan hujan lokal, termasuk awan Cumulonimbus yang dapat memicu hujan lebat dalam waktu singkat.
Wilayah pegunungan juga memiliki peluang hujan yang lebih tinggi selama musim kemarau karena adanya efek orografis, yakni ketika angin yang membawa uap air terdorong naik oleh lereng pegunungan hingga mengalami pendinginan dan membentuk hujan.
“Angin yang membawa uap air dipaksa naik oleh lereng gunung, mendingin, dan akhirnya jatuh sebagai hujan tepat di wilayah tersebut,” kata BMKG dalam unggahannya di Instagram, Rabu (3/6).
BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap memperhatikan perkembangan informasi cuaca dan iklim, terutama bagi sektor yang sensitif terhadap perubahan curah hujan seperti pertanian, pengelolaan sumber daya air, serta mitigasi bencana hidrometeorologi.
