Kurangi Ketergantungan Bahan Bakar Fosil, PalmCo Olah Limbah Sawit Jadi Energi
JAKARTA, sustainlifetoday.com — Subholding PTPN III (Persero), yakni PTPN IV PalmCo, mengembangkan energi baru terbarukan (EBT) berbasis limbah kelapa sawit untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil sekaligus menjaga stabilitas operasional.
Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K. Santosa, mengatakan langkah ini menjadi strategi antisipatif di tengah ketidakpastian harga energi global akibat dinamika geopolitik.
“Melalui pemanfaatan limbah cair kelapa sawit (Palm Oil Mill Effluent atau POME), perusahaan telah mengoperasikan pembangkit listrik tenaga biogas (PLTBg) sebagai sumber energi utama pabrik,” ujar Jatmiko dalam keterangan tertulis, Kamis (16/4).
Menurutnya, pengembangan EBT tersebut merupakan bagian dari strategi jangka panjang perusahaan dalam menghadapi volatilitas harga energi fosil.
“PLTBg membantu kami mengurangi ketergantungan terhadap solar, sekaligus menjaga efisiensi biaya operasional,” lanjut Jatmiko.
BACA JUGA
- PBN dan Kementerian Kebudayaan Soroti Pentingnya Mitigasi Cagar Budaya yang Berkelanjutan
- Pengadaan 25 Ribu Motor Listrik untuk MBG Masuk Radar KPK
- Danantara Prioritaskan Teknologi Terbukti untuk Proyek Sampah Jadi Listrik
Saat ini, PalmCo mengoperasikan dua fasilitas pembangkit listrik tenaga biogas, yakni PLTBg Terantam dan PLTBg Tandun. Kedua fasilitas tersebut memanfaatkan teknologi covered lagoon untuk mengolah limbah cair sawit menjadi biogas yang kemudian dikonversi menjadi energi listrik.
“Seluruh energi yang dihasilkan diserap langsung untuk mendukung operasional Pabrik Kelapa Sawit (PKS) PPIS Tandun dan mereduksi penggunaan bahan bakar fosil,” sambung Jatmiko.
Berdasarkan data perusahaan, pemanfaatan energi dari limbah tersebut telah menggantikan penggunaan genset berbahan bakar solar secara signifikan. Dalam periode 2023 hingga 2025, PalmCo berhasil menekan konsumsi solar lebih dari 2,6 juta liter.
“Efisiensi itu berdampak langsung pada pengeluaran perusahaan. PalmCo mencatat penghematan biaya energi mencapai sekitar Rp39,5 miliar dalam tiga tahun terakhir,” kata Jatmiko.
Direktur Strategy & Sustainability PalmCo, Ugun Untaryo, menilai pemanfaatan POME tidak hanya berdampak pada efisiensi, tetapi juga mencerminkan penerapan prinsip ekonomi sirkular di industri sawit.
“Limbah cair yang sebelumnya menjadi tantangan lingkungan kini kami olah menjadi sumber energi yang bernilai,” ujar Ugun.
Ia menjelaskan, kedua fasilitas tersebut mampu mengolah lebih dari 293 ribu meter kubik limbah cair dalam satu tahun, yang kemudian menghasilkan jutaan meter kubik gas metana untuk dimanfaatkan sebagai energi sekaligus menekan emisi gas rumah kaca.
“Langkah ini dipandang relevan dalam upaya global menekan emisi dan mempercepat transisi energi,” kata Ugun.
Lebih lanjut, Ugun menilai model pengelolaan energi berbasis limbah yang dikembangkan perusahaan berpotensi menjadi rujukan bagi industri perkebunan dalam memperkuat efisiensi sekaligus ketahanan energi di masa depan.
