Pemerintah Prancis Perintahkan Warganya Batasi Konsumsi Daging untuk Kurangi Dampak Iklim
Jakarta, sustainlifetoday.com — Pemerintah Prancis mendorong warganya untuk membatasi konsumsi daging sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesehatan masyarakat sekaligus menekan emisi gas rumah kaca. Kebijakan ini menjadi langkah strategis di tengah tradisi kuliner Prancis yang selama ini identik dengan hidangan berbasis daging seperti steak-frites dan beef bourguignon.
Menurut kalkulator jejak karbon CO2 Everything, satu porsi daging sapi seberat 100 gram menghasilkan emisi setara dengan 78,7 kilometer perjalanan kendaraan, atau sekitar 15,5 kilogram CO2 ekuivalen.
Melansir Euro News pada Rabu (18/2), pemerintah Prancis menerbitkan Strategi Nasional untuk Pangan, Gizi, dan Iklim yang menargetkan penanganan krisis iklim sekaligus persoalan kesehatan publik hingga 2030.
Pedoman baru tersebut mendorong pola makan berbasis makanan utuh seperti buah-buahan, sayuran, kacang-kacangan, biji-bijian, dan gandum utuh. Pemerintah juga menyerukan konsumsi daging dan sosis yang “terbatas”, serta pengurangan impor daging.
Dalam strategi tersebut disebutkan bahwa ikan dan produk susu dapat dikonsumsi dalam jumlah yang “cukup”, meskipun produksi susu sapi diketahui menghasilkan gas rumah kaca sekitar tiga kali lebih tinggi dibandingkan sebagian besar alternatif nabati.
Pedoman ini semula dijadwalkan terbit pada 2025, namun tertunda akibat penolakan dari pelobi industri pertanian. Dokumen tersebut akhirnya dirilis sebulan setelah pedoman diet Amerika Serikat justru menuai kontroversi karena menganjurkan konsumsi daging sapi.
BACA JUGA:
- Awal Puasa Ramadan 1447 H Berpotensi Berbeda, BRIN Ungkap Faktor Hilal Global dan Lokal
- KLH Dukung MUI Soal Fatwa Haram Membuang Sampah ke Sungai, Danau, dan Laut
- BMKG Prediksi Cuaca Ekstrem Berlanjut hingga 23 Februari, Sejumlah Wilayah Diminta Waspada
Diet Berkelanjutan dan Aksi Iklim
Menteri Transisi Ekologi, Keanekaragaman Hayati, serta Negosiasi Internasional tentang Iklim dan Alam Prancis, Monique Barbut, menekankan bahwa perubahan pola konsumsi merupakan bagian dari aksi iklim.
“Dengan memilih produk lokal dan berkelanjutan, kita mengurangi jejak karbon, melindungi keanekaragaman hayati, dan menghargai kerja keras petani kita. Melalui strategi ini, pelestarian lingkungan secara nyata diundang hadir ke dalam piring makan kita,” katanya.
Meski mengakui dampak lingkungan konsumsi daging, kebijakan pemerintah Prancis tetap mendapat kritik dari sejumlah aktivis. Mereka menilai pemerintah hanya menggunakan istilah “membatasi” konsumsi daging, bukan “mengurangi” secara tegas.
Stephanie Pierre dari France Assos Sante menyatakan kelompoknya mengharapkan kebijakan yang lebih ambisius dalam mendorong perubahan pola konsumsi.
Terlepas dari kebijakan pemerintah, masyarakat Prancis disebut mulai beralih dari pola makan berbasis daging dalam beberapa tahun terakhir. Jajak pendapat 2025 oleh asosiasi perubahan iklim le Réseau menunjukkan 52 persen warga telah mengurangi konsumsi daging dalam tiga tahun terakhir.
Sebagian besar responden menyebut kenaikan harga produk daging sebagai alasan utama. Selain itu, sebanyak 38 persen responden mempertimbangkan faktor kesehatan, sementara 35 persen menyebut alasan lingkungan dan 33 persen mempertimbangkan kesejahteraan hewan.
