BMKG Prediksi Cuaca Ekstrem Berlanjut hingga Lebaran 2026
Jakarta, sustainlifetoday.com — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan cuaca ekstrem masih berpotensi terjadi hingga periode Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah (Lebaran). Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa Indonesia saat ini masih berada pada puncak musim hujan.
“Saat ini kita masih berada di puncak musim hujan pada Januari-Februari, kemudian akan melandai. Namun, hujan dengan intensitas tinggi ini masih terjadi di sebagian besar wilayah Indonesia,” kata Faisal dalam keterangannya, Jumat (13/2).
Menurut Faisal, selama periode Hari Raya Idul Fitri sejumlah fenomena atmosfer diprediksi masih aktif, antara lain monsun Asia, Madden Julian Oscillation (MJO), gelombang atmosfer, serta potensi bibit siklon atau siklon tropis di wilayah selatan Indonesia.
BMKG mengingatkan adanya potensi peningkatan intensitas curah hujan, terutama pada akhir Februari hingga awal Maret 2026. Hujan dengan intensitas ringan hingga lebat berpotensi terjadi di Jawa Barat, Jawa Tengah, Nusa Tenggara Timur (NTT), dan Sulawesi Selatan pada periode tersebut.
Sementara itu, pada Maret 2026 curah hujan diperkirakan berada pada kategori menengah hingga tinggi, dengan potensi hujan intensitas tinggi di Jawa Barat, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, serta Papua Tengah. Hujan ringan hingga sedang masih mendominasi, dengan peluang hujan lebat di Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Papua Tengah, dan Papua pada periode Minggu (1/3) hingga Selasa (10/3).
BACA JUGA:
- Polres Tangsel Selidiki Kebakaran Gudang Pestisida yang Cemari Sungai Cisadane
- Diduga Tercemar Pestisida, KLH Turunkan Tim ke Sungai Cisadane
- Pemprov DKI Buka Peluang Gunakan Truk Sampah Listrik untuk Tekan Emisi Perkotaan
“Periode 11-20 Maret dan 21–30 Maret 2026 cuaca relatif serupa, didominasi hujan ringan hingga sedang. Prakiraan akan terus diperbarui berdasarkan analisis dan data terkini,” tutur Faisal.
Memasuki bulan Maret, BMKG juga mengingatkan potensi pertumbuhan awan cumulonimbus (CB) di sejumlah wilayah, seperti Sumatera Barat, Samudra Hindia, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara Timur, Maluku, Papua, serta Pasifik Utara. Kondisi ini berpotensi menimbulkan turbulensi dan petir pada rute penerbangan, serta hujan lebat, badai guntur, wind gust, dan wind shear di area bandara.
Secara umum, BMKG memprakirakan kondisi cuaca selama periode Hari Raya dan libur Idul Fitri tahun ini relatif kondusif dan tidak berpotensi menimbulkan gangguan berskala besar terhadap kelancaran transportasi dan mobilitas masyarakat. Kendati demikian, potensi hujan di sejumlah wilayah tetap perlu diwaspadai, terutama di daerah rawan bencana.
BMKG juga mengingatkan potensi banjir rob pada Maret 2026 akibat kombinasi fase Bulan Baru pada Kamis (19/3) dan fase Perigee pada Minggu (22/3) yang dapat meningkatkan ketinggian pasang air laut.
“BMKG juga melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) secara situasional dan berbasis kebutuhan untuk mendukung mitigasi bencana hidrometeorologi, khususnya dalam menekan intensitas hujan di wilayah berisiko,” jelas Faisal.
BMKG berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) serta pemerintah daerah dalam pelaksanaan OMC. Operasi dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi atmosfer, kesiapan sarana prasarana, serta efektivitas di lapangan. Sejauh ini, OMC telah digelar di Jakarta dan Jawa Barat serta sejumlah wilayah yang rentan terhadap banjir dan longsor akibat cuaca ekstrem.
Selain itu, BMKG menyediakan berbagai platform informasi cuaca untuk mendukung kelancaran transportasi selama periode mudik Lebaran 2026, antara lain Digital Weather for Traffic (DWT), System of Interactive Aviation Meteorology (Ina-SIAM), Indonesia Weather Information for Shipping (InaWIS), serta website dan aplikasi InfoBMKG.
