BRIN Dalami Pencemaran Sungai Cisadane, Telusuri Dampak terhadap Lingkungan
Jakarta, sustainlifetoday.com — Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria menyatakan pihaknya akan melakukan kajian mendalam terhadap kasus pencemaran Sungai Cisadane, Banten, yang berdampak pada ekosistem perairan dan wilayah sekitar.
“Untuk Cisadane segera, nanti saya bersama tim akan mempelajari,” kata Arif dalam keterangannya, Kamis (12/2).
Arif menjelaskan pihaknya telah berkomunikasi dengan sejumlah personel di lapangan untuk memperoleh gambaran menyeluruh mengenai peristiwa pencemaran tersebut.
“Saya masih ingin memanggil tim yang sudah bergerak, seperti apa kasusnya, kemudian akan kita selesaikan segera,” ujar dia.
BACA JUGA:
- Inggris Kucurkan Rp275 Miliar untuk Perkuat Tata Kelola Hutan Berkelanjutan di Indonesia
- Dorong Hilirisasi dan EBT, Pemerintah Bidik RI Jadi Pemain Utama Ekosistem Hidrogen
- Pemprov DKI Buka Peluang Gunakan Truk Sampah Listrik untuk Tekan Emisi Perkotaan
Sebelumnya, pencemaran Sungai Cisadane dilaporkan meluas hingga sekitar 22,5 kilometer, mencakup wilayah Kota Tangerang Selatan, Kota Tangerang, dan Kabupaten Tangerang.
Insiden tersebut dipicu kebakaran gudang perusahaan pupuk yang menyebabkan cairan pestisida mengalir ke Sungai Jeletreng, anak Sungai Cisadane, di Tangerang Selatan.
Dampak pencemaran teridentifikasi pada ekosistem perairan, antara lain kematian berbagai biota akuatik seperti ikan mas, ikan baung, ikan patin, ikan nila, dan ikan sapu-sapu. Kasus ini menjadi perhatian berbagai pihak karena berpotensi menimbulkan risiko lingkungan jangka panjang serta berdampak pada masyarakat di sekitar aliran sungai.
