WWF Temukan Lebih dari 30 Dugong di Maluku Barat Daya, Rekor Baru Keanekaragaman Laut Indonesia
Jakarta, sustainlifetoday.com — Kawanan sapi laut atau dugong dalam jumlah besar ditemukan berenang bebas di perairan Maluku Barat Daya (MBD). Temuan ini kembali menegaskan posisi Indonesia sebagai salah satu pusat keanekaragaman hayati laut dunia.
Sebagai negara yang berada di garis khatulistiwa dan masuk dalam kawasan Coral Triangle, Indonesia menjadi rumah bagi beragam spesies laut, termasuk satwa langka dan dilindungi. Luasnya wilayah laut yang dimiliki Indonesia menjadikannya habitat penting bagi berbagai spesies kunci ekosistem.
Dalam ekspedisi terbaru, World Wide Fund for Nature (WWF) Indonesia menemukan lebih dari 30 ekor dugong di perairan Pulau Romang. Jumlah tersebut menjadi sorotan karena dugong dikenal sebagai spesies yang umumnya ditemukan dalam kelompok kecil.
Selain dugong, tim ekspedisi juga mencatat keberadaan ratusan spesies laut lain yang masuk kategori terancam punah dan dilindungi.
“Kita menemukan lebih dari 200 spesies, kita peneliti bilangnya ETP (Endangered, Threatened, and Protected species), spesies-spesies yang terancam punah, rentan, dan dilindungi oleh undang-undang,” ujar Senior Manager Program WWF Indonesia sekaligus Expedition Lead, Ahmad Hafiz Adyas, dikutip dari detikcom, Jumat (6/2).
Ahmad menjelaskan, keberadaan dugong dan paus orca di wilayah tersebut memiliki peran penting bagi keseimbangan ekosistem laut. Spesies-spesies ini kerap disebut sebagai spesies kunci yang menjaga stabilitas rantai kehidupan di laut.
“Jadi kita menemukan lebih dari 30 dugong lalu paus orca. Kenapa ini di-highlight? karena mereka adalah spesies kunci jadi kalau kita peneliti laut bilang, jadi menjaga spesies ini, maka ekosistem lain ikut terjaga,” tegasnya.
BACA JUGA:
- Riset BRIN Jadi Andalan Pemerintah untuk Atasi Krisis Sampah
- BRIN: Jakarta Kini Jadi “Hutan Beton”, Risiko Banjir Kian Tak Terelakkan
- Operasi Modifikasi Cuaca Dinilai Berisiko, BRIN Minta Kajian Ilmiah Lebih Mendalam
Pemantauan dilakukan menggunakan drone di sekitar Pulau Romang. Dari hasil pengamatan udara, tercatat sebanyak 32 ekor dugong terlihat di perairan tersebut. Temuan ini disebut sebagai rekor baru di Indonesia, mengingat sebelumnya belum pernah tercatat kawanan dugong dengan jumlah sebesar itu.
Ahmad juga membandingkan temuan ini dengan catatan dari negara lain seperti India dan Thailand, yang selama ini hanya menemukan sekitar 26 ekor dugong dalam satu lokasi.
“Dan biasanya dugong itu selalu kalau ditemukan cuma satu, dua, paling banyak mungkin tiga. Jarang sekali banyak begini berkumpul,” ujar Ahmad.
Selain dugong, tim ekspedisi juga menemukan paus orca di perairan Kepulauan Romang–Demar. Paus orca merupakan predator puncak (apex predator) dalam ekosistem laut, sehingga kehadirannya menjadi indikator penting kondisi lingkungan laut yang masih sehat.
Paus orca yang ditemukan diduga merupakan jenis resident orca, yang kerap terlihat oleh masyarakat setempat dan diduga melakukan migrasi dengan jarak pendek.
“Kita menduga orca yang kita temukan kemarin, resident orca kita bilangnya. Jadi orca kan migrasi ya, nah tapi karena dia dekat di sini (dengan pulau) dia mungkin migrasinya pendek dan akan reguler ditemukan di daerah situ,” paparnya.
Sementara itu, Direktur Konservasi Ekosistem KKP, Firdaus Agung Kunto Kurniawan, menegaskan bahwa perairan Kepulauan Romang dan Damer merupakan wilayah konservasi yang harus dijaga bersama.
“Supaya ini menjadi perhatian dunia jadi eksotisme, keunikan, dan sebagainya itu bukan hanya menjadi kekayaan masyarakat di Maluku. Bukan menjadi kekayaan, kebanggaan di Maluku tapi menjadi kebanggaan Indonesia, menjadi warisan dunia,” ujar Firdaus.
Temuan ini menjadi pengingat pentingnya perlindungan ekosistem laut Indonesia, tidak hanya sebagai aset nasional, tetapi juga sebagai warisan ekologis global yang harus dijaga keberlanjutannya.
