BRIN: Jakarta Kini Jadi “Hutan Beton”, Risiko Banjir Kian Tak Terelakkan
Jakarta, sustainlifetoday.com — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyoroti perubahan besar pada sistem hidrologi Jakarta akibat masifnya alih fungsi lahan. Tutupan hutan pohon yang semula berperan menyerap air kini kian tergantikan oleh bangunan dan infrastruktur perkotaan.
Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN, Budi Heru Santosa, menyebut Jakarta telah bertransformasi menjadi “hutan beton”. Perubahan ini berdampak langsung pada kemampuan tanah dalam menyerap dan menyimpan air hujan.
Sementara itu, tekanan ekologis di Jakarta terus meningkat seiring menyusutnya ruang terbuka hijau (RTH). Pembangunan gedung bertingkat dan kawasan terbangun membuat permukaan kota didominasi lapisan kedap air.
“Jakarta ini sekarang permukaannya sudah sebagian besar tertutup lapisan yang tidak bisa menembus air disebut juga impermeable layer. Ada atap gedung, parkiran disemen beton maupun dari aspal tidak bisa ditembus kecuali sangat sedikit,” kata Budi dalam konferensi pers di Jakarta Pusat, dikutip Kamis (5/2).
Kondisi tersebut menyebabkan air hujan tidak terserap ke dalam tanah. Saat curah hujan tinggi, air langsung melimpas ke kawasan sekitar dan memicu banjir di berbagai titik.
Budi menjelaskan, Jakarta dilintasi 13 sungai utama, di antaranya Ciliwung, Krukut, Angke, Pesanggrahan, dan Sunter. Sungai-sungai ini menyalurkan air dari wilayah hulu seperti Bogor, Depok, dan Tangerang sebelum bermuara di Jakarta.
“Ketika air laut pasangnya sangat tinggi, hujan deras di seluruh wilayah DAS (daerah aliran sungai) mulai dari puncak, Jakarta, Bogor, Depok dan sebagainya sangat besar debitnya yang masuk ke Jakarta dan di Jakarta juga hujan di situlah kombinasi yang paling parah berpotensi terjadi,” tutur Budi.
BACA JUGA:
- Pemerintah Resmi Tetapkan Harga Listrik dari Sampah Sebesar US$20 Sen per kWh
- 39 RT dan Satu Ruas Jalan di Jakarta Tergenang Banjir Akibat Hujan Deras
- Pasar Karbon Indonesia Siap Jalan Juli 2026, Hashim Sebut “Game Changer” Ekonomi Hijau
Selain faktor hidrologi, persoalan tata ruang turut memperparah risiko banjir. Okupasi sempadan sungai, penumpukan sampah, serta sedimentasi mengurangi kapasitas sungai dalam menampung debit air. Penurunan muka tanah atau land subsidence juga menjadi faktor krusial.
Budi menyebut, di sejumlah wilayah Jakarta, laju penurunan tanah bahkan mencapai belasan sentimeter per tahun. Kondisi ini dipengaruhi oleh karakter tanah aluvial serta pengambilan air tanah yang berlebihan, terutama di kawasan permukiman padat dan sektor industri.
“Tanah pasti ada kandungan airnya, ketika airnya disedot tidak serta-merta dia akan terisi oleh air yang baru. Otomatis hubungan antara pori-pori ada yang kosong, di sana akan terjadi pemampatan, akan turun pelan sedikit demi sedikit juga terjadi konsolidasi,” jelas Budi.
Untuk itu, ia menekankan pentingnya penyediaan air perpipaan yang layak guna mengurangi ketergantungan masyarakat pada air tanah.
Budi menilai, pembangunan ruang limpah sungai dan kolam retensi oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta merupakan langkah yang tepat sebagai tempat penampungan sementara saat debit air meningkat. Dalam jangka pendek, ia mendorong perbaikan sistem drainase, penguatan sistem peringatan dini banjir berbasis data dan kecerdasan buatan (AI), serta percepatan pembangunan infrastruktur pengendali banjir.
Sementara untuk jangka panjang, Budi merekomendasikan pembatasan pengambilan air tanah, penerapan solusi berbasis alam (nature-based solutions), serta penataan ruang yang berorientasi pada mitigasi bencana dan keberlanjutan lingkungan.
