Deforestasi Kian Masif, Empat Primata Endemik Indonesia Terancam Hilang
Jakarta, sustainlifetoday.com — Indonesia kembali menjadi sorotan dalam isu konservasi global seiring meningkatnya ancaman terhadap primata endemik. Empat spesies primata asli Tanah Air kini masuk dalam kategori paling terancam punah di dunia, didorong oleh laju deforestasi, konversi lahan, perburuan, serta perdagangan satwa liar ilegal yang terus menekan ruang hidup alami mereka.
Tekanan tersebut tidak hanya berdampak pada kelangsungan spesies, tetapi juga pada stabilitas ekosistem hutan hujan tropis. Direktur Eksekutif Belantara Foundation, Dolly Priatna, menegaskan bahwa primata memegang peran kunci dalam menjaga keseimbangan ekologi, khususnya sebagai penyebar biji yang mendukung regenerasi hutan secara alami. Keberadaan primata, menurut dia, juga menjadi indikator penting kesehatan ekosistem.
Fragmentasi hutan yang semakin masif menyebabkan populasi primata terisolasi di kantong-kantong habitat kecil. Kondisi ini turut memicu peningkatan konflik antara manusia dan satwa liar, seiring menyempitnya ruang hidup alami. Dolly menilai, situasi tersebut membutuhkan pendekatan kolaboratif lintas sektor untuk menahan laju kepunahan.
“Oleh karena itu, peringatan Hari Primata Indonesia setiap 30 Januari dapat menjadi momentum penting guna mendorong kolaborasi multipihak dengan konsep pentahelix untuk mendukung program pelestarian dan perlindungan primata beserta habitatnya di Indonesia,” kata Dolly.
Berdasarkan Mammal Diversity Database 2025, Indonesia tercatat memiliki 66 jenis primata atau sekitar 12,8 persen dari total primata dunia, menjadikannya negara dengan jumlah primata terbanyak ketiga setelah Brasil dan Madagaskar. Namun, kondisi konservasinya memprihatinkan. IUCN Red List mencatat 12 spesies berstatus Critically Endangered, 25 Endangered, 26 Vulnerable, satu Near Threatened, dan dua Data Deficient.
Situasi tersebut diperkuat oleh laporan Primates in Peril 2023–2025 yang dirilis IUCN SSC Primate Specialist Group, International Primatological Society, dan Re:wild. Laporan ini menempatkan empat primata Indonesia dalam kategori paling kritis dan membutuhkan tindakan konservasi segera.
BACA JUGA:
- Izin Pengelola Bandung Zoo Dicabut, Kemenhut dan Pemkot Jamin Perawatan Satwa
- BMKG: Gempa Berkekuatan M6,4 yang Guncang Wilayah Pacitan Jenis Megathrust
- Perluas Pendidikan Inklusif, Mensos dan Delapan Kepala Daerah Siap Jalankan Sekolah Rakyat
Empat primata tersebut meliputi orangutan tapanuli (Pongo tapanuliensis), spesies kera besar yang baru diakui terpisah dari orangutan sumatera pada 2017. Populasinya diperkirakan hanya 577–760 individu dan kini terbatas di Lanskap Batang Toru, Sumatera Utara, dengan habitat yang terfragmentasi dalam tiga blok utama.
Selain itu, simakobu (Simias concolor) endemik Kepulauan Mentawai mengalami penurunan populasi hingga 75 persen sejak 1980 akibat deforestasi dan perburuan. Populasinya kini diperkirakan tersisa 6.700–17.300 individu.
Lutung sentarum (Presbytis chrysomelas) juga berada dalam kondisi kritis. Primata ini hanya menempati sekitar 5 persen dari sebaran historisnya di wilayah barat laut Borneo, dengan populasi tersisa sekitar 200–500 individu. Meski berstatus Critically Endangered, spesies ini belum masuk dalam daftar satwa dilindungi di Indonesia.
Sementara itu, tarsius sangihe (Tarsius sangirensis), primata nokturnal yang hanya hidup di Pulau Sangihe, diperkirakan tinggal sekitar 464 individu. Spesies ini berstatus Endangered dan telah ditetapkan sebagai satwa dilindungi.
Para peneliti menilai, tanpa percepatan perlindungan habitat, penguatan penegakan hukum, serta kolaborasi lintas pemangku kepentingan, tekanan terhadap primata Indonesia berpotensi terus meningkat seiring ekspansi lahan dan aktivitas manusia di kawasan hutan.
