Turis Asing Menangis Lihat Sampah, Bukit Pergasingan Ditutup Sementara untuk Evaluasi
Jakarta, sustainlifetoday.com – Destinasi wisata pendakian Bukit Pergasingan di Sembalun, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), resmi ditutup sementara usai sebuah video yang memperlihatkan seorang wisatawan mancanegara (WNA) menangis akibat melihat tumpukan sampah viral di media sosial. Dalam video yang beredar, wisatawan mancanegara dengan nama Instagram @lucy_lari_lari menyayangkan banyaknya sampah yang tercecer di Bukit Pergasingan. Langkah penutupan ini diambil sebagai bentuk evaluasi menyeluruh guna memperbaiki sistem pengelolaan limbah di kawasan wisata yang menyuguhkan panorama Gunung Rinjani tersebut.
Ketua Pengelola Bukit Pergasingan, Royal Sembahulun, menegaskan perlunya perombakan tata kelola kebersihan demi menjaga keberlanjutan ekosistem pariwisata di daerahnya.
“Kita tutup sementara, kemudian kita bangun lagi sistem yang lebih bagus. Kita bangun penanganan sampahnya yang lebih kompeten, sehingga ke depan tidak ada lagi isu-isu terkait dengan kotornya sebuah destinasi,” ujar Ketua Pengelola Bukit Pergasingan, Royal Sembahulun dilansir TribunLombok, Jumat (31/7).
Royal memaparkan bahwa reaksi emosional turis asing tersebut sejatinya bukan semata-mata dipicu oleh kondisi di Bukit Pergasingan. Kekecewaan itu merupakan akumulasi dari krisis sampah yang merata di berbagai sudut kawasan Sembalun.
“Pada saat itu kebetulan dia juga mendaki Bukit Pergasingan dan dia keliling kampung. Dia melihat sampah di sungai, sampah di sawah, sampah pesisirnya banyak, itu yang bikin dia sedih,” jelasnya.
BACA JUGA
- Transisi Net Zero Emission Thailand Dinilai Lebih Terarah Dibanding Indonesia
- Walhi Peringatkan Ancaman Karhutla Akibat Kerusakan Gambut dan Kuatnya El Nino
- Antisipasi Super El Nino, Pemerintah Siagakan 240 Bendungan Hadapi Ancaman Kekeringan
Insiden ini diakui menjadi teguran keras, mengingat Bukit Pergasingan sebelumnya telah mengantongi predikat gold atau emas dari Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH). Predikat ini menjadikannya kawasan dengan standar penilaian tertinggi dibandingkan bukit-bukit wisata lain di sekitarnya.
“Karena ada standarisasi yang dinilai dari berbagai indikator. Makanya kami malu, karena kebetulan saja tamu ini dia naiknya ke Pergasingan, sehingga Pergasingan disebut,” terangnya.
Meski demikian, pihak pengelola tidak menampik fakta bahwa persoalan pengelolaan sampah masih menjadi tantangan ekologis dan pekerjaan rumah yang sangat besar di seluruh kawasan pariwisata tersebut, bukan hanya di area pendakian.
“Kalau berbicara soal sampah, memang sampai hari ini permasalahan kita masih banyak. Yang masuk di pusuk, di mana-mana, sampah,” tutupnya.
