Transisi Net Zero Emission Thailand Dinilai Lebih Terarah Dibanding Indonesia
Jakarta, sustainlifetoday.com – Upaya Thailand menuju target net zero emission (NZE) dinilai lebih terarah berkat dukungan basis data terpusat yang seragam antarlembaga. Kondisi ini berbanding terbalik dengan Indonesia yang masih berkutat pada persoalan perbedaan data dan minimnya koordinasi lintas instansi dalam menentukan kebijakan pengurangan emisi karbon.
Co-founder Bicara Udara, Novita Natalia Kusumawardani, memaparkan bahwa Thailand telah menerapkan pendekatan tata kelola iklim yang berpusat pada satu sumber data riil. Data kementerian di negara tersebut sukses dijadikan rujukan tunggal yang diimplementasikan hingga ke tingkat pemerintah provinsi.
“Karena menurut aku Thailand tuh cukup base on data banget. Datanya satu, kementerian lingkungan hidup yang menggunakan itu, terus pemerintah provinsinya menggunakan itu. Kalau di sini, kementerian yang menggunakan ini, pemerintah Jakarta yang menggunakan ini, terus kementerian ESDM yang menggunakan datanya mereka, Kementerian Lingkungan Hidup yang menggunakan itu,” kata Novita dalam konferensi pers Indonesia Net-Zero Summit di Jakarta, Rabu (29/7).
Akibat perbedaan referensi basis data yang digunakan oleh berbagai lembaga pemerintahan di Indonesia, kebijakan pengurangan emisi nasional kerap kali tidak memiliki landasan maupun arah yang sama.
“Jadi apa namanya, enggak satu suara dan akhirnya jadi ego sektoran. Gitu sih,” ujarnya.
Meskipun memuji kemajuan Thailand, Novita menilai perjalanan negara-negara di kawasan Asia Tenggara menuju NZE secara umum masih menghadapi tantangan terjal. Proses transisi energi di Thailand pun tetap membutuhkan waktu panjang mengingat mereka belum sepenuhnya lepas dari sektor-sektor industri yang menjadi penyumbang emisi.
BACA JUGA
- Wamen PPPA Soroti Rendahnya Keterwakilan Perempuan di Jabatan Pimpinan Tinggi ASN
- Pemerintah Uji Coba Penyaluran Bansos Lewat Kopdes Merah Putih Mulai Agustus 2026
- Indonesia Gandeng Jepang Kembangkan World Mangrove Center untuk Mitigasi Perubahan Iklim
“Kalau net zero sebenarnya ini masih maju-mundur ya, kalau untuk negara-negara ASEAN gitu ya,” kata Novita.
“Jadi kalau untuk net zero-nya sendiri, mereka itu lebih mau mendengarkan. Cuman kalau misalkan ngomongin kan negara-negara seperti kita, negara-negara seperti Thailand, itu kan sebenarnya masih menggantungkan ekonomi di sektor-sektor itu kan (penyumbang emisi). Jadi mereka tuh juga kadang-kadang masih jauh sebenarnya,” lanjutnya.
Walau masih dihadapkan pada dilema ekonomi, langkah-langkah awal strategis yang telah dieksekusi Thailand menempatkan negara tersebut pada fase mitigasi iklim yang dinilai jauh lebih maju ketimbang Indonesia.
“Cuman kalau kita ngomongin small step yang sudah mereka lakukan, mereka paling di awal tuh kayak misalkan ada staging 0, 1, 2, 3, 4, 5. Nah kalau untuk net zero misalkan mereka sudah masuk di staging 3, 4. Nah kalau kita masih di 0, 1, gitu,” ujar Novita.
Lebih jauh, Novita menegaskan bahwa kemajuan Thailand tidak sekadar terukur dari penetapan target iklim semata, melainkan dari keberhasilan mereka mengonsolidasikan infrastruktur data dan mengkomunikasikannya secara transparan melalui pemetaan zona emisi.
“Jadi apa namanya basis datanya, targetnya, terus bagaimana mereka mengkomunikasikan itu dalam bentuk zona-zona emisi tadi, itu tuh mereka sudah, misalkan 0, 1, 2 tuh mereka udah mulai ngelewatin staging itu. Nah kita tuh untuk pengumpulan zona-zona emisi ini, ini tuh juga masih jauh gitu,” katanya.
