Antisipasi Super El Nino, Pemerintah Siagakan 240 Bendungan Hadapi Ancaman Kekeringan
Jakarta, sustainlifetoday.com – Pemerintah memastikan sebanyak 240 bendungan di berbagai wilayah Indonesia telah beroperasi secara optimal guna menghadapi ancaman kekeringan akibat fenomena El Nino Godzilla atau Super El Nino. Langkah mitigasi infrastruktur sumber daya air ini dipersiapkan untuk mencegah krisis cuaca ekstrem sekaligus menjaga stabilitas ketahanan pangan nasional.
Keberadaan infrastruktur pengairan ini dinilai sangat strategis untuk mengurangi ketergantungan lahan pertanian terhadap curah hujan, sehingga tingkat produktivitas tetap terjaga meskipun dilanda musim kemarau panjang.
“Saat ini ratusan bendungan yang ada turut menjadi salah satu infrastruktur yang disiagakan pemerintah dalam menghadapi ancaman kekeringan pada musim kemarau yang disebabkan fenomena El Nino,” kata Deputi Bidang Kemitraan dan Hubungan Media Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom), Kurnia Ramadhana, dalam konferensi pers di Gedung Bakom, Jakarta Pusat, pada Rabu (29/7).
Berdasarkan data Kementerian Pekerjaan Umum, 240 bendungan yang saat ini beroperasi memiliki total kapasitas tampungan air mencapai 9,74 miliar meter kubik. Selain itu, pemerintah turut memperkuat ketahanan air melalui penyediaan 601 situ dan danau dengan volume 135,59 miliar meter kubik, 1.034 tampungan air baku berkapasitas 435,67 juta meter kubik, serta 10.789 sumur bor dengan kapasitas 114,8 ribu meter kubik per detik.
Guna memperluas jangkauan adaptasi iklim dan ketahanan pangan, pemerintah saat ini juga tengah melanjutkan pembangunan 15 bendungan baru berstatus Proyek Strategis Nasional (PSN) dengan alokasi anggaran Rp32,8 triliun yang ditargetkan selesai secara bertahap hingga 2029.
BACA JUGA
- Pakar BRIN Peringatkan Ancaman Super El Nino dan Potensi Kekeringan Meluas di Indonesia
- Pemerintah Uji Coba Penyaluran Bansos Lewat Kopdes Merah Putih Mulai Agustus 2026
- Indonesia Gandeng Jepang Kembangkan World Mangrove Center untuk Mitigasi Perubahan Iklim
Beberapa proyek yang dijadwalkan rampung pada 2026 meliputi Bendungan Bulango Ulu di Gorontalo dengan kapasitas tampung 93,75 juta meter kubik untuk mengaliri 757 hektare lahan pertanian, serta Bendungan Jragung di Semarang berkapasitas 90 juta meter kubik guna melayani irigasi seluas 6.564 hektare.
Menyusul pada 2027, pemerintah menargetkan penyelesaian Bendungan Budong-budong (Sulawesi Barat), Bendungan Mbai (Nusa Tenggara Timur), dan Bendungan Way Apu (Maluku). Kemudian pada 2028, Bendungan Cibeet (Jawa Barat), Cijurey, dan Jenelata (Sulawesi Selatan) ditargetkan mulai beroperasi. Sedangkan pada 2029, giliran Bendungan Bagong, Bener, Cabean, Karangnongko, Manikin, dan Riam Kiwa yang dijadwalkan rampung.
Bendungan-bendungan baru ini dirancang dengan kapasitas tampung berskala masif. Bendungan Jenelata, misalnya, diproyeksikan mampu menampung 223,6 juta meter kubik air; Bendungan Tiga Dihaji di Sumatra Selatan memiliki kapasitas 139,77 juta meter kubik; dan Bendungan Cibeet mampu menahan 97,53 juta meter kubik air.
Kurnia menegaskan bahwa ketersediaan sarana penyimpanan air berskala besar adalah kunci untuk melepaskan sektor pertanian dari ancaman gagal panen akibat cuaca ekstrem.
“Ketersediaan air baku menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan produksi pertanian di Indonesia. Tanpa dukungan bendungan dan irigasi yang memadai, banyak wilayah pertanian masih mengandalkan pola tanam tadah hujan yang rentan terhadap perubahan musim termasuk ancaman kekeringan saat El Nino,” ujar Kurnia.
