TPA Bantargebang Jadi Penyumbang Emisi Metana Terbesar Kedua di Dunia
Jakarta, sustainlifetoday.com – Tempat pemrosesan akhir (TPA) Bantargebang di Bekasi kembali menjadi sorotan, kali ini dalam konteks krisis iklim global. Fasilitas pengelolaan sampah terbesar di Indonesia ini tercatat sebagai salah satu penyumbang emisi gas rumah kaca (GRK) metana terbesar di dunia.
Berdasarkan laporan terbaru dari Institut Emmett di Fakultas Hukum University of California Los Angeles (UCLA), Bantargebang masuk dalam daftar 25 TPA dengan emisi metana tertinggi secara global. Posisinya bahkan berada di peringkat kedua, hanya di bawah TPA Campo de Mayo di Argentina.
Bantargebang diketahui menghasilkan emisi metana sekitar 6,3 ton per jam, sementara TPA di Argentina mencapai 7,6 ton per jam.
“Meskipun banyak tempat pembuangan akhir hanya mengeluarkan beberapa puluh kilogram metana per jam, tempat-tempat dalam daftar “25 teratas” kami mengeluarkan jauh lebih banyak – berkisar antara 3,6 hingga sekitar 7,6 ton (metrik ton) metana per jam,” demikian keterangan dari laporan berjudul Spotlight on the Top Methane Plumes in 2025; Landfills dikutip pada Senin (27/4).
Data ini dihimpun melalui teknologi pemantauan berbasis satelit, termasuk Tanager-1 milik Planet Labs dan instrumen EMIT NASA di Stasiun Luar Angkasa Internasional. Pengamatan dilakukan sepanjang 1 Januari hingga 31 Desember 2025, dengan analisis terhadap sumber emisi yang terdeteksi secara langsung dari atmosfer.
Laporan tersebut juga mengaitkan operasional Bantargebang dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sebagai pihak yang berpotensi bertanggung jawab atas pengelolaannya.
BACA JUGA
- Ramai Isu Siomay Berbahan Ikan Sapu-Sapu, Pemkot Jaksel Perketat Pengawasan Pangan
- Gaya Hidup Ramah Lingkungan Dinilai Masih Mahal dan Rumit, Ini Tantangannya
- Hari Kartini 2026, BPOM Dorong Perempuan Jadi Agen Perubahan Kesehatan
Dalam perspektif global, emisi metana dari TPA menjadi perhatian serius karena kontribusinya terhadap pemanasan global jauh lebih besar dibandingkan karbon dioksida dalam jangka pendek.
“Untuk menggambarkan betapa pentingnya sumber-sumber ini, dan peluang besar apa yang mereka tawarkan untuk pengurangan jangka pendek, pertimbangkan bahwa selama setahun, tempat pembuangan sampah yang mengeluarkan 5 ton metana per jam (berada di tengah-tengah daftar 25 teratas kami) akan berkontribusi terhadap pemanasan global hampir sama dengan satu juta SUV atau satu pembangkit listrik tenaga batu bara besar (500 megawatt),” demikian keterangan dalam laporan itu.
Di sisi lain, tekanan terhadap Bantargebang juga terus meningkat dari dalam negeri. Dengan beban rata-rata lebih dari 7.300 ton sampah per hari, kapasitas tampung TPA ini diperkirakan akan mencapai batas dalam waktu dekat jika masih mengandalkan sistem penimbunan konvensional.
Data historis menunjukkan tren peningkatan signifikan volume sampah sejak 2014, meski sempat mengalami penurunan sementara pada periode pandemi. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, angka tersebut kembali meningkat dan bahkan melampaui 7.700 ton per hari.
Selain persoalan lingkungan, pengelolaan Bantargebang juga memiliki implikasi fiskal. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta harus mengalokasikan dana hibah sekitar Rp365 miliar per tahun kepada Pemerintah Kota Bekasi sebagai kompensasi atas penggunaan lahan.
