COP31 Luncurkan Agenda Aksi Iklim Global, Dorong Percepatan Implementasi hingga 2035
Jakarta, sustainlifetoday.com – Presidensi COP31 yang dipimpin Turki bersama Australia resmi meluncurkan Agenda Aksi Iklim Global dalam Pertemuan Iklim Bulan Juni PBB (SB64) di Bonn, Jerman. Agenda tersebut menandai dorongan baru bagi komunitas internasional untuk mempercepat implementasi aksi iklim di lapangan, seiring meningkatnya dampak perubahan iklim di berbagai belahan dunia.
Melalui agenda tersebut, Presidensi COP31 menetapkan sejumlah target terukur yang akan dicapai pada 2035. Salah satunya adalah meningkatkan tingkat elektrifikasi global hingga 35 persen melalui pemanfaatan energi bersih. Selain itu, target lain mencakup penurunan intensitas energi di sektor bangunan sebesar 25 persen dan peningkatan penggunaan material sirkular global hingga minimal 15 persen guna mendukung industrialisasi hijau.
Menteri Lingkungan Hidup dan Urbanisasi Turki sekaligus calon Presiden COP31 Murat Kurum mengatakan dunia saat ini berada pada fase krusial dalam menghadapi krisis iklim.
“Dalam aksi iklim, waktu untuk sekadar menetapkan tujuan dan target normatif sudah berada di belakang kita. Tugas kita sekarang adalah mempercepat implementasi. Apa yang dibutuhkan dunia saat ini bukanlah putaran janji-janji baru untuk kesekian kalinya. Dunia perlu melihat komitmen yang ada saat ini benar-benar direalisasikan dan dipenuhi,” kata Kurum dalam konferensi pers yang berlangsung di Bonn, dikutip pada Rabu (10/6).
Menurut Kurum, agenda aksi tersebut dirancang sebagai kerangka kerja operasional yang berfokus pada hasil nyata dan terukur. Prioritas yang diusung mencakup elektrifikasi, program zero waste, ketahanan pangan, kota tangguh, industrialisasi hijau, kesehatan, pendidikan, hingga keterlibatan generasi muda.
BACA JUGA
- Momentum Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, Bank Mandiri Terus Perkuat Aksi Iklim
- Menteri LH Terus Ajak Semua Pihak “Tobat Ekologis” Demi Lingkungan
- Pemprov DKI akan Libatkan Pelajar dalam Gerakan Pilah Sampah
Sebagai bagian dari strategi percepatan implementasi, Presidensi COP31 juga memperkenalkan Climate Implementation Bridge. Inisiatif ini ditujukan untuk membantu negara-negara berkembang dan rentan mengubah target pengurangan emisi dalam Nationally Determined Contributions (NDC) menjadi proyek-proyek yang layak mendapatkan investasi.
Langkah tersebut diharapkan dapat mempercepat penyaluran pendanaan iklim global hingga ke tingkat implementasi di lapangan.
Dukungan terhadap agenda tersebut datang dari Sekretaris Eksekutif Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC) Simon Stiell. Ia menilai percepatan elektrifikasi berbasis energi terbarukan menjadi salah satu langkah paling efektif dalam mendorong transisi menuju ekonomi rendah karbon.
“Ekonomi global saat ini bergeser jauh lebih cepat daripada yang diperkirakan sebagian besar orang, didorong oleh kerja sama iklim dan realitas ekonomi yang tak terbantahkan: energi terbarukan kini jauh lebih murah,” kata Stiell.
Menurut data PBB, energi terbarukan telah melampaui batu bara sebagai sumber listrik utama dunia pada tahun lalu. Capaian tersebut menjadi salah satu indikator percepatan transisi energi global sejak disepakatinya Perjanjian Paris.
Stiell juga menyoroti dampak ketergantungan terhadap bahan bakar fosil yang dinilai tidak hanya memperparah krisis iklim, tetapi juga meningkatkan biaya hidup akibat fluktuasi harga energi.
Agenda Aksi COP31 turut memperluas fokus yang sebelumnya diperkenalkan Brasil pada COP30. Selain sektor energi dan industri, agenda baru ini juga mencakup pengurangan limbah, penurunan emisi metana, peningkatan efisiensi bangunan, pengembangan kota tangguh, serta penguatan sektor pertanian dan ketahanan pangan.
Dalam sektor agraria, COP31 menargetkan penyediaan pelatihan praktik pertanian tangguh iklim bagi petani muda sebagai upaya memperkuat ketahanan pangan global di tengah meningkatnya risiko gagal panen akibat perubahan iklim.
Melalui berbagai target dan program tersebut, Presidensi COP31 berharap dapat memperkecil kesenjangan implementasi dan pendanaan yang selama ini menjadi tantangan utama dalam aksi iklim global. Hasil pembahasan di Bonn akan dilanjutkan dalam pertemuan konsolidasi di Antalya, Turki, menjelang penyelenggaraan COP31.
