Gaya Hidup Ramah Lingkungan Dinilai Masih Mahal dan Rumit, Ini Tantangannya
JAKARTA, sustainlifetoday.com — Gaya hidup ramah lingkungan dinilai masih belum mudah diterapkan secara luas di masyarakat. Selain faktor biaya, kompleksitas solusi berkelanjutan juga menjadi hambatan utama, sehingga praktik hidup hijau kerap dianggap sebagai privilese yang hanya bisa diakses kelompok tertentu.
Sekretaris Dewan Pengurus The Habibie Center, Nadia Sofia Habibie, mengatakan penerapan gaya hidup berkelanjutan masih menghadapi banyak kendala, baik dari sisi biaya maupun kepraktisan.
“Banyak solusi-solusi hijau agak ribet. Memang beberapa hal yang saya lakukan juga belum hijau-hijau banget karena memang rumit dan mahal,” ujar Nadia dikutip pada Kamis (23/4).
Menurut Nadia, isu keberlanjutan sering kali terasa eksklusif karena sulit relevan bagi masyarakat yang masih berjuang memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari. Ia menilai, keberlanjutan merupakan agenda jangka panjang yang membutuhkan kemampuan merencanakan masa depan, sehingga sulit menjadi prioritas bagi kelompok masyarakat tertentu.
“Kalau kita masih memikirkan kebutuhan besok, kita enggak bisa sustainable,” tuturnya.
Di tingkat yang lebih luas, Nadia melihat persoalan keberlanjutan juga bersifat dilematis bagi negara berkembang. Banyak negara, termasuk Indonesia, masih mengandalkan industrialisasi sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi, meskipun berkontribusi terhadap peningkatan emisi karbon.
BACA JUGA
- El Nino Godzilla Ancam Krisis Air Bersih, Indonesia Hadapi Risiko Polikrisis
- Ekonomi Sirkular Bisa Tembus Rp500 Triliun, Waste4Change: Harus Benahi Sistem Sampah
- UNESCO Soroti Pemikiran Kartini sebagai Kunci Pembangunan Inklusif
Ia juga menyoroti bahwa kebijakan nasional turut memengaruhi upaya masyarakat dalam menjalani gaya hidup ramah lingkungan. Ketergantungan terhadap energi fosil, seperti penggunaan listrik berbasis batu bara dan kendaraan berbahan bakar minyak, membuat transisi menuju gaya hidup hijau menjadi lebih menantang.
“Jadi kita semua itu bagian dari krisis iklim. Solusinya ada, tapi memang repot, sulit, dan mahal karena ketergantungan kita sudah luar biasa,” kata Nadia.
Dalam praktiknya, peralihan ke alternatif yang lebih ramah lingkungan, seperti kendaraan listrik, belum dapat dilakukan secara instan. Namun, ia menilai perubahan mulai terlihat seiring meningkatnya efisiensi biaya energi dan semakin kompetitifnya harga teknologi baru.
“Sekarang banyak banget kendaraan listrik dan harganya sudah lumayan kompetitif,” ujarnya.
Meski demikian, Nadia menekankan bahwa tantangan terbesar justru terletak pada perubahan kebiasaan individu, terutama dalam pola konsumsi dan gaya hidup sehari-hari.
Menurut Nadia, transformasi menuju kehidupan yang lebih berkelanjutan membutuhkan pendekatan menyeluruh, baik melalui perubahan sistem maupun perilaku masyarakat.
