Sumatra Selatan Bidik Sawit dan EBT untuk Kurangi Ketergantungan pada Batu Bara
Jakarta, sustainlifetoday.com – Sumatra Selatan, yang selama ini dikenal sebagai salah satu penghasil batu bara terbesar di Indonesia, mulai membidik pengembangan sejumlah sektor ekonomi baru untuk menghadapi agenda transisi energi global dari energi fosil.
Salah satu sektor yang dipandang strategis ialah industri kelapa sawit, seiring meningkatnya pemanfaatan minyak sawit untuk biodiesel dan energi alternatif lainnya.
Kepala Seksi Konservasi Energi di Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Sumatera Selatan, Ira Rihatini, menjelaskan bahwa sawit menjadi salah satu komoditas unggulan di Sumatra Selatan karena memiliki luasan perkebunan terbesar setelah karet.
“Kami di Provinsi Sumatera Selatan menyebutkan sawit itu adalah sumber energi masa depan, energi hijau,” kata Ira dilansir pada Kamis (21/5).
Menurut Ira, kondisi geografis Sumatra Selatan yang didominasi lahan rawa dinilai cocok untuk pengembangan sawit dibandingkan tanaman lain.
“Kondisi geografi atau tanahnya itu rawa, nah tanaman yang bisa tumbuh di rawa ini adalah sawit. Tanaman yang lain agak sulit untuk hidup di tanah rawa,” ujar Ira.
Ia menjelaskan tanah rawa memiliki tingkat keasaman tinggi dan lebih sering terendam air, sementara tanaman sawit dinilai lebih tangguh menghadapi kondisi tersebut.
“Kebetulan sawit merupakan tanaman yang tangguh,” ucapnya.
BACA JUGA
- Pemerintah Targetkan Implementasi B50 Nasional Mulai Juli 2026
- Pemerintah Percepat Pengembangan PLTS untuk Tekan Biaya Energi Nasional
- Mengupas Buku “Transformasi Menuju Bisnis Hijau Perusahaan”, Dari ESG Hingga Risiko Iklim
Pengembangan industri sawit di Sumatra Selatan disebut akan difokuskan pada peningkatan produktivitas perkebunan yang sudah ada tanpa membuka lahan baru. Pemerintah daerah juga mendorong optimalisasi lahan konsesi yang belum dimanfaatkan perusahaan.
Selain menghasilkan biodiesel, sawit juga diproyeksikan menjadi bahan baku energi alternatif lain seperti gas biometana dan bioavtur.
Perkebunan sawit dengan kualitas buah rendah nantinya direncanakan dimanfaatkan untuk produksi gas biometana yang diharapkan dapat menjadi pengganti LPG maupun gas industri.
“Biometana itu juga nanti diharapkan bisa menjadi pengganti LPG atau gas untuk industri,” ujarnya.
Sementara itu, minyak sawit mentah juga dinilai berpotensi menjadi bahan baku bioavtur atau bahan bakar pesawat ramah lingkungan. Menurut Ira, penggunaan minyak jelantah sebagai bahan baku bioavtur masih menghadapi keterbatasan pasokan.
“Mungkin sulit untuk mengumpulkan minyak jelantahnya, jadi lebih mudah mengumpulkan minyak kelapa sawit mentah,” kata dia.
Di sisi lain, Pemerintah Provinsi Sumatra Selatan juga telah membentuk Forum Konsultasi Daerah untuk Percepatan Transformasi Ekonomi sebagai bagian dari strategi diversifikasi ekonomi daerah di tengah agenda transisi energi.
Forum tersebut akan memimpin pelaksanaan 12 sektor program prioritas yang diharapkan mampu meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) sebagai alternatif pengganti kontribusi sektor batu bara.
“Yang diharapkan nanti dapat menghasilkan PAD (Penghasilan Asli Daerah), menggantikan (hasil batu bara) biar pun tidak secara total,” ujar Ira.
Selain sawit, pemerintah daerah juga berencana mengembangkan sektor kopi, karet, udang vaname, serat alami, ikan gabus, ikan patin, hingga sektor pariwisata berbasis pegunungan, air terjun, dan sungai.
Dari sektor energi, Sumatra Selatan juga menargetkan peningkatan pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT) dan pengolahan sampah menjadi listrik. Ira menyebut dari total potensi EBT sebesar 21.032 megawatt, baru sekitar 5,12 persen yang telah dimanfaatkan.
