Mengupas Buku “Transformasi Menuju Bisnis Hijau Perusahaan”, Dari ESG Hingga Risiko Iklim
Jakarta, sustainlifetoday.com – Rentetan bencana hidrometeorologi, tekanan transisi energi, hingga regulasi iklim yang semakin ketat sepanjang 2025 membuat banyak perusahaan mulai menyadari satu hal penting: isu lingkungan bukan lagi sekadar tambahan dalam laporan tahunan, melainkan bagian dari strategi bertahan hidup bisnis di masa depan.
Realitas itulah yang menjadi fondasi utama buku Transformasi Menuju Bisnis Hijau Perusahaan: Panduan Praktis Green Productivity dan Manajemen Risiko Iklim Berbasis ESG karya Leonard Tiopan Panjaitan. Leonard yang merupakan konsultan di Trisakti Sustainability Center sekaligus co-founder dan member IS2P, tidak menempatkan ESG (Environmental, Social, and Governance) sebagai sekadar jargon korporasi. Buku yang diterbitkan Deepublish pada 2026 ini justru mencoba membawa pembahasan keberlanjutan ke area yang lebih praktis, terukur, dan dekat dengan realitas operasional perusahaan.
Di bagian awal, pembaca diajak melihat gambaran besar mengenai ancaman perubahan iklim terhadap berbagai sektor industri di Indonesia pada periode 2026–2030. Leonard membahas bagaimana risiko iklim dapat memengaruhi sektor perbankan, industri tambang, tata kelola lahan, hingga rantai pasok bisnis secara keseluruhan.
Namun pembahasannya tidak berhenti pada level makro. Leonard juga masuk ke persoalan yang jauh lebih teknis dan detail. Misalnya, bagaimana perusahaan e-commerce menghitung emisi karbon Scope 3, bagaimana strategi mitigasi risiko diterapkan dalam proyek tambang nikel, hingga bagaimana produktivitas pekerja di lantai pabrik dapat ditingkatkan tanpa mengorbankan aspek lingkungan.
Pendekatan yang digunakan Leonard terasa cukup berbeda karena hampir seluruh pembahasannya berbasis data dan sains. Ia mencoba menunjukkan bahwa keberlanjutan bukan hanya persoalan citra perusahaan atau kepatuhan regulasi, tetapi juga menyangkut efisiensi biaya, ketahanan bisnis, dan pengelolaan risiko jangka panjang.
Pengalaman Leonard di dunia perbankan sejak 1997–2020 juga menjadi salah satu fondasi kuat dalam penulisan buku ini. Dari pengalamannya tersebut, Leonard melihat masih banyak perusahaan yang membicarakan transformasi hijau di ruang rapat direksi, tetapi belum mampu menerjemahkannya menjadi langkah operasional yang konkret.
Kesenjangan itulah yang kemudian coba dijembatani lewat buku ini. Leonard ingin menunjukkan bahwa ESG tidak seharusnya berhenti sebagai dokumen kepatuhan atau presentasi korporasi semata, melainkan harus hadir dalam proses pengambilan keputusan sehari-hari perusahaan.
Salah satu pendekatan yang paling ditekankan adalah konsep Green Productivity. Melalui konsep ini, Leonard mencoba mematahkan pandangan lama yang menganggap efisiensi bisnis selalu bertentangan dengan kepentingan lingkungan.
Menurutnya, perusahaan tetap bisa mengejar profitabilitas sambil menjaga keberlanjutan lingkungan jika menggunakan pendekatan yang tepat. Buku ini kemudian mengulas berbagai metode seperti 5S, Kaizen, hingga Material Flow Cost Accounting (MFCA) sebagai contoh praktik yang dapat membantu perusahaan meningkatkan efisiensi sekaligus menekan dampak lingkungan.
Yang membuat buku ini cukup menarik adalah keberaniannya masuk ke pembahasan yang sangat kuantitatif. Leonard tidak hanya membicarakan risiko iklim secara umum, tetapi juga mengulas simulasi teknis seperti probabilitas gagal bayar kredit (Probability of Default/PD) dan potensi kerugian finansial (Loss Given Default/LGD) akibat krisis iklim.
Dengan pendekatan seperti itu, buku ini terasa bukan hanya relevan bagi praktisi keberlanjutan, tetapi juga bagi sektor perbankan, industri manufaktur, pertambangan, hingga pengambil kebijakan yang mulai menghadapi tekanan transisi menuju ekonomi rendah karbon.
Ketebalan buku yang mencapai 723 halaman pun menjadi cerminan luasnya cakupan pembahasan. Leonard tidak hanya membahas konsep keberlanjutan dari sisi teori, tetapi juga mencoba menghubungkan berbagai aspek yang selama ini sering dipisahkan, mulai dari risiko iklim, produktivitas industri, manajemen operasional, hingga sistem pembiayaan.
Meski cukup teknis, buku ini tidak hanya menyasar kalangan profesional atau eksekutif perusahaan. Mahasiswa, akademisi, insinyur, hingga masyarakat yang memiliki perhatian terhadap isu ekonomi hijau juga dapat menemukan banyak perspektif baru di dalamnya.
Lewat buku Transformasi Menuju Bisnis Hijau Perusahaan: Panduan Praktis Green Productivity dan Manajemen Risiko Iklim Berbasis ESG, Leonard menghadirkan optimisme bahwa Indonesia memiliki peluang besar untuk tumbuh sebagai negara dengan ekonomi yang tidak hanya kompetitif, tetapi juga lebih tangguh dan berkelanjutan di tengah tantangan perubahan iklim global.
Buku Transformasi Menuju Bisnis Hijau Perusahaan: Panduan Praktis Green Productivity dan Manajemen Risiko Iklim Berbasis ESG dapat diakses melalui link di sini.
