Jejak Hutan Purba di Geopark Ijen, Peneliti Temukan Paku Pohon Berumur 65 Juta Tahun
JAKARTA, sustainlifetoday.com — Peneliti dari Fakultas MIPA Universitas Jember (Unej) menemukan keberadaan tanaman purba di kawasan Geopark Ijen, tepatnya di wilayah Erek-erek Geoforest, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.
Tanaman tersebut adalah paku pohon dari marga Cyathea yang diperkirakan telah ada sejak sekitar 65 juta tahun lalu. Keberadaan spesies ini menjadikan kawasan tersebut sebagai salah satu lokasi penting dalam studi keanekaragaman hayati purba di Indonesia.
“Kami menemukan ada dua jenis paku pohon di wilayah Erek-erek Geoforest, yakni Cyathea contaminas dan Cyathea orientalis,” kata salah satu dosen yang juga peneliti Fakultas MIPA Unej Prof. Hari Sulistyowati di Jember, dikutip dari Antara, Kamis (16/4).
Menurut dia, tanaman paku pohon tersebut tumbuh subur di kawasan dengan ketinggian antara 1.600 hingga 1.700 meter di atas permukaan laut (mdpl), yang termasuk dalam wilayah Perhutani Banyuwangi Barat.
“Bahkan tim kami menemukan banyak paku pohon yang tingginya mencapai enam hingga 10 meter seperti pohon kelapa. Kondisi itu dimungkinkan karena lingkungan Erek-erek Geoforest yang masih alami, kelembaban tinggi, kanopi pohon yang rapat dan limpahan sumber air,” tuturnya.
Ia menambahkan bahwa kondisi ekologis yang terjaga juga dipengaruhi oleh bentang alam di sekitar kawasan tersebut.
“Kami menduga bahwa bentang alam itu yang melindungi wilayah Erek-erek dari letusan Gunung Ijen purba pada masa lalu. Tak heran jika kondisinya masih terjaga, masih seperti ribuan tahun lalu,” katanya.
BACA JUGA
- PBN dan Kementerian Kebudayaan Soroti Pentingnya Mitigasi Cagar Budaya yang Berkelanjutan
- Pramono akan Panggil Seluruh Wali Kota Jakarta untuk Basmi Ikan Sapu-Sapu di Sungai
- Danantara Prioritaskan Teknologi Terbukti untuk Proyek Sampah Jadi Listrik
Hari mengungkapkan bahwa pengalaman awal penelitian di kawasan tersebut memberikan kesan mendalam bagi timnya.
“Keberadaan paku pohon yang masuk tumbuhan purba beserta lingkungan pendukungnya itu tentu saja menarik untuk dikaji. Saat ini para ahli Biologi FMIPA Unej terus meneliti,” ujarnya.
Penelitian lanjutan dilakukan oleh tim dosen lain, yakni Fuad Bahrul Ulum dan Dwi Setyati, yang mengkaji morfologi paku pohon, mulai dari struktur batang, karakteristik spora, hingga pola reproduksi.
“Diharapkan hasil penelitian akan menambah khazanah pengetahuan mengenai tumbuhan paku pohon yang merupakan fosil hidup karena bentuknya yang hampir tidak berubah sejak zaman prasejarah,” katanya.
Selain tumbuhan purba, para peneliti juga mengkaji kekayaan ekosistem lain di kawasan tersebut, termasuk flora, fauna, serta kondisi lingkungannya. Kawasan Erek-erek Geoforest pun dikategorikan sebagai Kawasan Bernilai Konservasi Tinggi (KBKT) atau High Conservation Value karena memiliki nilai ekologis, biologis, dan sosial yang signifikan.
” Oleh karena itu kondisi Erek-erek Geoforest harus dijaga bersama, sebab harta yang tak ternilai bagi wilayah Tapal Kuda,” ujarnya.
