PSEL Dinilai Solusi Tekan Timbunan Sampah dan Dorong Transisi Energi
Jakarta, sustainlifetoday.com — Pemerintah menilai pemanfaatan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) menjadi salah satu solusi strategis untuk mengurangi beban timbunan sampah yang terus meningkat di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).
Wakil Menteri Pekerjaan Umum Diana Kusumastuti menyampaikan bahwa PSEL diharapkan mampu menekan akumulasi sampah yang selama ini didominasi berakhir di TPA.
“PSEL merupakan infrastruktur yang diharapkan dapat mengurangi beban timbunan sampah di TPA sampah,” ujar Diana, dilansir Antara, Jumat (9/1).
Ia menjelaskan, banyak TPA di Indonesia saat ini berada dalam kondisi kelebihan kapasitas akibat belum optimalnya pengurangan, pemilahan, serta pengolahan sampah sejak dari sumber, baik di tingkat rumah tangga, komunal, maupun kawasan.
“TPA sampah tetap diperlukan, sebagai satu bagian rangkaian yang tidak terpisahkan dalam sistem pengelolaan sampah secara utuh, yang harus diawali dengan upaya pencegahan sampah, pengurangan sampah, dan pengolahan sampah, sehingga beban dari TPA sampah akan turun, kebutuhan luas lahan TPA sampah mengecil, dan beban pencemaran dari TPA sampah juga akan berkurang,” katanya.
Baca Juga:
- Pertamina Pertahankan Peringkat ESG Nomor Satu Dunia di Sektor Migas Terintegrasi
- Hanya 18,5 Persen Hutan Tersisa, Jambi Masuk Zona Darurat Ekologis
- Bantah Kantor Digeledah Kejagung Terkait Korupsi Tambang Nikel, Kemenhut: Hanya Verifikasi Data
Diana menambahkan, Kementerian Pekerjaan Umum saat ini terus berkoordinasi dengan Danantara, kementerian dan lembaga negara lainnya, serta pemerintah daerah untuk memperkuat dukungan infrastruktur yang menunjang penerapan teknologi PSEL.
Sementara itu, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengungkapkan bahwa pemerintah akan segera memulai pembangunan proyek Waste to Energy atau PSEL di 34 titik di Indonesia.
Ia menjelaskan, proyek PSEL tersebut merupakan bagian dari program hilirisasi nasional dan direncanakan mulai dibangun melalui peletakan batu pertama (groundbreaking) pada periode Januari hingga Maret mendatang.
“Berkenaan dengan (proyek) Waste to Energy yang akan dibangun di 34 kabupaten/kota atau di 34 titik, yang hari ini sampahnya sudah mencapai 1.000 ton lebih per hari, ini memerlukan penanganan sesegera mungkin untuk diolah,” katanya.
Menurut Prasetyo, proyek PSEL dipercepat lantaran volume timbunan sampah harian di sejumlah daerah telah mencapai rata-rata lebih dari 1.000 ton per hari. Oleh karena itu, pembangunan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik diharapkan mampu mengurangi tekanan terhadap lingkungan sekaligus menekan risiko kesehatan masyarakat akibat penumpukan sampah.
