Truk Jadi Penyumbang Emisi Terbesar di Jakarta, WRI Dorong Transformasi Armada
Jakarta, sustainlifetoday.com – Polusi udara di Jakarta masih menjadi tantangan besar bagi kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat. Di tengah anggapan bahwa kendaraan pribadi menjadi penyebab utama pencemaran, sebuah kajian terbaru justru menunjukkan bahwa truk merupakan kontributor terbesar emisi partikulat halus (PM2.5) dari sektor transportasi.
Studi WRI Indonesia bersama Guru Besar Teknik Lingkungan Institut Teknologi Bandung (ITB) Prof. Puji Lestari untuk periode 2020–2025 mencatat truk menyumbang sekitar 43,2 persen emisi PM2.5 di Jakarta. Padahal, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2025, jumlah truk di Jakarta hanya sekitar 527 ribu unit dari total 12,3 juta kendaraan bermotor yang beroperasi di ibu kota atau kurang dari lima persen dari keseluruhan kendaraan.
Selain PM2.5, truk juga menjadi penyumbang utama emisi nitrogen oksida (NOx), sulfur dioksida (SO2), dan black carbon (BC), yang berkontribusi terhadap meningkatnya risiko berbagai penyakit, mulai dari stroke, penyakit jantung, kanker paru-paru, pneumonia, hingga asma.
Temuan tersebut mendorong WRI Indonesia bersama ITB melaksanakan Jakarta Refuse Truck Study sejak Oktober 2025. Kajian ini mengidentifikasi berbagai pilihan teknologi untuk menekan emisi armada truk sampah milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, sekaligus menghitung biaya transformasi menuju armada yang lebih ramah lingkungan.
Armada truk sampah dipilih sebagai titik awal karena dinilai menjadi sektor yang paling realistis untuk memulai transformasi transportasi perkotaan. Saat ini, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta mengoperasikan sekitar 1.700 truk sampah, yang sebagian besar masih menggunakan mesin diesel berstandar Euro II dengan tingkat emisi lebih tinggi dibandingkan teknologi terbaru.
BACA JUGA
- Blackout Jadi Alarm Percepat Pengembangan PLTS Atap di Indonesia
- KKP Targetkan Kampung Nelayan Merah Putih Jadi Penggerak Ekonomi Pesisir Berkelanjutan
- Genesis Bengkulu: Sawit Ilegal Masih Mengancam Habitat Gajah Sumatera di Bentang Alam Seblat
Kajian tersebut menawarkan dua skenario utama, yakni memperbarui armada menjadi truk diesel berstandar Euro IV atau beralih ke truk listrik. Hingga kini, Jakarta telah mengoperasikan 15 unit truk compactor listrik sebagai bagian dari upaya tersebut.
Dari sisi ekonomi, hasil analisis Total Cost of Ownership (TCO) menunjukkan bahwa truk listrik semakin kompetitif dibandingkan kendaraan berbahan bakar diesel. Dengan asumsi menggunakan BBM diesel non-subsidi berstandar Euro IV, biaya kepemilikan truk listrik tipe compactor bahkan sekitar 1,3 persen lebih rendah apabila biaya pembangunan infrastruktur pengisian daya tidak dibebankan kepada operator.
Apabila biaya pembangunan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) turut diperhitungkan, selisih biaya kepemilikannya hanya sekitar 6,84 persen lebih tinggi dibandingkan truk diesel. Menurut WRI Indonesia, hasil tersebut menunjukkan bahwa teknologi truk listrik semakin layak secara ekonomi untuk diadopsi.
Country Director WRI Indonesia Nirarta Samadhi menilai transformasi armada truk sampah dapat menjadi langkah strategis menuju kota yang lebih rendah emisi.
“Transformasi armada truk sampah dapat menjadi salah satu kado paling spesial menuju 500 tahun Jakarta pada 2027. Ini merupakan investasi untuk kualitas udara, kesehatan masyarakat, dan masa depan Jakarta,” ujarnya dikutip dari keterangan tertulis WRI, Jumat (3/7).
Selain meningkatkan kualitas udara, elektrifikasi armada truk juga dinilai mampu mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan bakar minyak (BBM). Langkah tersebut berpotensi menghemat devisa negara sekaligus menekan beban subsidi dan kompensasi energi di masa mendatang, sejalan dengan upaya mendorong sistem transportasi yang lebih bersih dan berkelanjutan.
