Pemprov DKI akan Gabungkan Taman Leuser, Ayodya, dan Langsat Demi Fungsi Ekologis
Jakarta, sustainlifetoday.com – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan menggabungkan tiga taman ikonik di Jakarta Selatan, yaitu Taman Leuser, Ayodya, dan Langsat menjadi satu kawasan ruang terbuka hijau terpadu. Proyek ini akan dimulai pada Juli 2025 dan ditargetkan rampung pada akhir tahun.
“Salah satu yang akan dilakukan dalam bulan ini adalah tiga taman yang kita gabungkan yaitu Taman Leuser, Ayodhya, dan Langsat,” ujar Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung di Ancol, Jakarta Utara, Kamis (10/7).
Inisiatif ini diharapkan tak hanya memperluas ruang hijau di ibu kota, tetapi juga meningkatkan fungsi ekologis kawasan. Salah satu tujuan utamanya adalah memperbaiki ekosistem aliran air di wilayah tersebut yang selama ini kerap mengalami banjir lokal saat musim hujan.
“Mudah-mudahan dalam akhir tahun Desember di tahun 2025 ini saya bisa meresmikan penggabungan taman itu sekaligus membuat salah satu jogging track yang paling panjang karena luasnya 6,5 hektare,” lanjut Pramono.
Baca Juga:
- ASEAN Kurang Ambisi Hadapi Krisis Iklim, IESR Soroti Minimnya Aksi Nyata
- KLH Ancam Tutup Perusahaan Kategori Merah dan Hitam dalam Penilaian Proper
- Menag: Perubahan Iklim Lebih Mematikan dari Konflik Bersenjata
Selain menambah nilai ekologis dan estetika kota, penggabungan taman juga mempertimbangkan aspek sosial dan ekonomi warga sekitar. Pramono menyebut, sejumlah pelaku UMKM yang saat ini berjualan di sekitar ketiga taman akan terdampak selama masa penataan. Namun, Pemprov DKI Jakarta berkomitmen untuk tetap memberikan ruang bagi aktivitas ekonomi warga.
“Di sana ada UMKM yang jualan dan sebagainya, karena 3 taman ini akan dirapikan pasti ada yang terdampak. Tapi seperti yang saya sampaikan, pemerintah Jakarta akan memberikan alternatif supaya mereka tetap bisa bekerja dengan apa yang selama ini mereka lakukan,” jelasnya.
Kawasan terpadu hasil penggabungan tiga taman ini akan menjadi salah satu ruang terbuka hijau terbesar di Jakarta Selatan, sekaligus menjadi model pengembangan kota berkelanjutan yang memadukan aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi.
