Menag: Perubahan Iklim Lebih Mematikan dari Konflik Bersenjata
Jakarta, sustainlifetoday.com – Menteri Agama Republik Indonesia, Nasaruddin Umar, menyoroti besarnya jumlah korban akibat perubahan iklim yang dinilai jauh melampaui korban jiwa akibat konflik antarnegara.
“Kita lihat perang yang terjadi tahun ini, Ukraina dengan Rusia, Israel dengan tetangganya (Iran). Berapa (yang meninggal dunia)? Kurang lebih 60.000 orang meninggal. Meninggal karena climate change (perubahan iklim),” ujar Nasaruddin di Jakarta dikutip pada Kamis (10/7).
Ia menyatakan, berdasarkan data PBB, lebih dari satu juta orang meninggal setiap tahun akibat dampak perubahan iklim.
Oleh karena itu, Nasaruddin menekankan pentingnya membangun hubungan yang harmonis antara manusia dan alam untuk menghindari krisis kemanusiaan yang lebih besar.
Baca Juga:
- Pramono: Modifikasi Cuaca Belum Mendesak, Banjir Harus Disiasati
- Indonesia Luncurkan Survei Jangka Panjang untuk Kebijakan Inklusif Lansia
- Dishub DKI Buka Wisata Gratis ke Pulau Seribu, Ini Syaratnya
“Jadi kalau kita tidak berhasil menciptakan harmoni antara lingkungan hidup dan lingkungan alam, maka tingkat kematian penduduk masyarakat, manusia, itu sangat dahsyat,” tambahnya.
Selain itu, Nasaruddin menilai bahwa dalam menghadapi tantangan lingkungan global, pendekatan agama atau teologi perlu menjadi bagian dari solusi.
Ia menyebut bahasa politik atau diplomasi terkadang tidak cukup efektif dalam membangun kesadaran masyarakat terkait isu lingkungan.
“Bahasa diplomasi, bahasa politik, dan bahasa pemerintah itu kadang-kadang tidak efektif untuk mengajak masyarakat untuk sadar,” tuturnya.
Menurutnya, perubahan perilaku masyarakat harus dimulai dari cara berpikir (logos) yang dibentuk oleh nilai-nilai budaya (ethos) dan keyakinan spiritual.
“Tidak mungkin bisa mengubah logos tanpa mengubah ethos masyarakat, dan tidak mungkin mengubah ethos masyarakat tanpa sistem teologi,” ujarnya.
