Makin Dekat ke Swasembada Pangan, Prabowo: Banyak Negara Minta Beras dan Pupuk
Jakarta, sustainlifetoday.com – Presiden Prabowo Subianto menilai capaian sektor pertanian nasional menunjukkan bahwa Indonesia semakin dekat menuju swasembada pangan yang kuat dan berkelanjutan. Menurutnya, peningkatan produksi pangan dan ketersediaan sarana produksi pertanian kini tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri, tetapi juga mulai mendukung kebutuhan negara lain.
Hal tersebut disampaikan Presiden saat menghadiri puncak Pekan Nasional (PENAS) Petani dan Nelayan XVII Tahun 2026 di Gorontalo, Rabu (25/6).
Prabowo mengatakan posisi Indonesia dalam menjaga ketahanan pangan nasional semakin menguat di tengah berbagai tantangan global, termasuk risiko krisis pangan yang masih membayangi sejumlah negara.
Salah satu indikator yang disebut Presiden adalah meningkatnya kapasitas produksi pupuk nasional hingga mampu menciptakan surplus.
“Saya ditelepon Perdana Menteri Australia. Beliau berterima kasih karena Indonesia punya surplus pupuk dan bertanya apakah bisa membeli pupuk dari Indonesia. Saya bilang silakan, kirim ke mereka,” kata Prabowo.
Menurut Presiden, isu pangan akan tetap menjadi salah satu tantangan utama dunia di masa depan. Berbagai lembaga internasional, kata dia, telah memberikan peringatan mengenai potensi meningkatnya jumlah penduduk yang mengalami kerawanan pangan akibat berbagai krisis global.
BACA JUGA
- TVS Indonesia Raih Sertifikasi Platinum GreenCo untuk Praktik Manufaktur Berkelanjutan
- Gaikindo: Penjualan Mobil Listrik Naik 80 Persen, Segmen LCGC Melemah
- Indonesia Bidik Dana Internasional US$260 Juta untuk Konservasi Laut
Di tengah kondisi tersebut, Indonesia dinilai mulai memainkan peran yang lebih besar dalam mendukung pasokan pangan kawasan.
“Alhamdulillah sekarang kita sudah mulai ekspor, kita membantu negara-negara lain. Banyak negara meminta pupuk dari kita, meminta beras dari kita, meminta jagung dari kita,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Presiden juga menegaskan bahwa keberhasilan peningkatan produksi pangan harus diikuti dengan perhatian terhadap kesejahteraan petani sebagai pelaku utama sektor pertanian.
Di hadapan lebih dari 100 ribu petani, nelayan, penyuluh, dan pelaku usaha pertanian yang menghadiri PENAS XVII, Prabowo menekankan pentingnya menjaga keberlanjutan program swasembada pangan nasional.
Menurutnya, peningkatan produksi tidak boleh membuat pemerintah mengabaikan aspek kesejahteraan petani, termasuk kepastian harga hasil panen yang menguntungkan.
“Asal harganya benar. Petani jangan rugi,” katanya.
Selain sektor pangan, Presiden juga menyinggung pengembangan hilirisasi kelapa sawit melalui program B50 yang direncanakan mulai diluncurkan pada Juli mendatang.
Program tersebut diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah komoditas pertanian nasional sekaligus memperkuat kemandirian energi Indonesia melalui pemanfaatan bahan bakar nabati.
Langkah hilirisasi ini menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk memperkuat keterkaitan antara sektor pertanian, ketahanan energi, dan pembangunan ekonomi berkelanjutan, sehingga manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat dan pelaku usaha di daerah.
