Indonesia Dorong Pembiayaan Konservasi Berbasis Alam yang Inklusif dan Berkelanjutan
Jakarta, sustainlifetoday.com – Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni menegaskan Indonesia tengah memperkuat transformasi pembiayaan konservasi melalui pendekatan nature finance atau pembiayaan berbasis alam yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Menurutnya, pendekatan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun sistem pengelolaan kawasan konservasi yang tidak lagi bergantung sepenuhnya pada anggaran pemerintah, tetapi juga didukung investasi yang kredibel, berintegritas, dan memberikan manfaat bagi masyarakat, lingkungan, serta aksi iklim.
“Indonesia tidak hanya sedang menyusun strategi pembiayaan. Kami sedang membangun paradigma baru tata kelola konservasi, di mana taman nasional memiliki kemandirian finansial, masyarakat menjadi mitra utama, sektor swasta memiliki peran yang bermakna, dan negara menyediakan kerangka regulasi yang kuat untuk memastikan seluruh mekanisme berjalan secara akuntabel dan berkelanjutan,” ujar Raja Juli dalam keterangannya melansir Antara, Jumat (26/6).
Sebagai tindak lanjut arahan Presiden Prabowo Subianto, pemerintah telah membentuk Satuan Tugas Pembiayaan Inovatif untuk Pengelolaan Taman Nasional dan Konservasi Spesies Ikonik.
“Satuan Tugas tersebut menargetkan sedikitnya 13 taman nasional dan dua lanskap konservasi spesies ikonik mencapai tingkat kemandirian pembiayaan pada 2030,” ucap Raja Juli.
Untuk mencapai target tersebut, Kementerian Kehutanan menerapkan strategi ganda melalui reformasi regulasi, penguatan kelembagaan, serta mobilisasi investasi dengan memanfaatkan berbagai instrumen keuangan inovatif dan kemitraan strategis.
BACA JUGA
- Perubahan Iklim Ancam Produksi Kopi Indonesia, Agroforestri Bisa Jadi Solusi
- Penggunaan Jet Pribadi Presiden FIFA Dinilai Perparah Jejak Karbon Piala Dunia 2026
- Makin Dekat ke Swasembada Pangan, Prabowo: Banyak Negara Minta Beras dan Pupuk
Salah satu pendekatan yang diperkenalkan adalah konsep Natural Ecosystems as a New Asset Class, yang memandang ekosistem alam sebagai aset strategis yang mampu menghasilkan manfaat ekonomi berkelanjutan tanpa mengabaikan fungsi ekologisnya.
“Selain itu, Indonesia juga memperkenalkan konsep ‘Natural Ecosystems as a New Asset Class’, yakni pendekatan yang memandang ekosistem alam sebagai aset strategis yang mampu menghasilkan manfaat ekonomi berkelanjutan sekaligus menjaga fungsi ekologisnya,” ucap dia.
Menurut Raja Juli, sejumlah instrumen yang tengah dikembangkan meliputi kredit karbon, kredit biodiversitas, obligasi konservasi spesies (species bonds), ekowisata, bioprospeksi, pemanfaatan hasil hutan bukan kayu, hingga berbagai skema kemitraan pemerintah dan swasta.
Pendekatan tersebut diharapkan mampu membuka peluang investasi baru yang mendukung perlindungan keanekaragaman hayati sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitar kawasan konservasi.
Sebagai implementasi awal, pemerintah memperkenalkan Peusangan Elephant Conservation Initiative (PECI) di Aceh sebagai proyek percontohan pembiayaan konservasi berbasis alam.
“Sebagai proyek percontohan utama, Indonesia memperkenalkan Peusangan Elephant Conservation Initiative (PECI) di Aceh. Inisiatif itu dirancang untuk menunjukkan bahwa perlindungan satwa liar, konektivitas habitat, dan pengembangan ekonomi masyarakat dapat berjalan secara terpadu dalam satu lanskap konservasi,” papar Raja Juli.
Melalui forum tersebut, Raja Juli juga mengundang komunitas investasi global, lembaga filantropi, mitra pembangunan, dan berbagai pemangku kepentingan untuk memperkuat kolaborasi dalam mendukung transformasi pembiayaan konservasi di Indonesia.
“Kami menyambut kemitraan dalam bentuk dukungan keahlian, transfer teknologi, dukungan implementasi program, maupun pembiayaan inovatif yang disepakati bersama,” ucap Raja Juli.
“Kolaborasi global akan mempercepat upaya kita dalam menjaga keanekaragaman hayati sekaligus menciptakan manfaat ekonomi yang berkelanjutan,” jelas dia.
Melalui pendekatan ini, pemerintah berharap konservasi tidak hanya menjadi instrumen perlindungan lingkungan, tetapi juga mampu menjadi penggerak pembangunan ekonomi yang memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat dan ekosistem.
