Gunung Semeru Alami Erupsi di Tengah Pengendalian Karhutla di TNBTS
Jakarta, sustainlifetoday.com – Kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) mengalami tekanan bencana beruntun setelah Gunung Semeru mengalami erupsi beruntun di tengah upaya pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang meluas di kawasan konservasi tersebut.
Berdasarkan informasi dari Pos Pengamatan Gunung Semeru, gunung tertinggi di Pulau Jawa itu mengalami beberapa kali erupsi sejak Jumat (14/8) dini hari. Erupsi pertama terdeteksi pada pukul 00.24 WIB dan terus berlanjut dengan kolom letusan tertinggi menembus lebih dari 1 kilometer dari puncak.
“Gunung Semeru kembali erupsi pukul 05.15 WIB dengan tinggi kolom letusan teramati sekitar 1,2 kilometer di atas puncak,” kata Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Liswanto, dikutip dari Antara, Jumat (14/8).
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melalui sistem MAGMA Indonesia menetapkan tingkat aktivitas Gunung Semeru berada di Level III (Siaga). Sepanjang tahun 2026, MAGMA Indonesia mencatat total 3.829 erupsi gunung api di seluruh Indonesia, di mana Gunung Semeru mendominasi dengan catatan 1.528 erupsi.
BACA JUGA
- Emisi NOx Indonesia Melonjak 50 Persen Akibat Ekspansi PLTU Captive dan Nikel
- Perkuat Tata Kelola Pasar Karbon, Kemenhut Rilis Permenhut Nomor 6 Tahun 2026
- Pertamina Foundation Resmikan Pasar Energi Berdikari Berbasis PLTS di Kepandean Serang
Mengantisipasi ancaman bahaya sekunder, masyarakat diimbau menghentikan seluruh aktivitas di sektor tenggara, terutama di sepanjang Besuk Kobokan yang menghubungkan Kabupaten Malang dan Lumajang hingga radius 13 kilometer dari pusat erupsi. Warga juga dilarang beraktivitas dalam radius 500 meter dari tepi sungai dan anak sungai Besuk Kobokan untuk menghindari bahaya awan panas guguran serta aliran lahar, plus pembatasan radius 5 kilometer dari puncak dari potensi lontaran batu pijar.
Krisis ekologi ini memperparah dampak karhutla yang melalap kawasan TNBTS sejak Senin (3/8) lalu, yang menyebabkan lebih dari seribu hektare lahan vegetasi hangus terbakar. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Probolinggo melaporkan bahwa kobaran api utama mulai terkendali, meski pengawasan ketat tetap dilakukan.
Kepala Pelaksana BPBD Probolinggo, Oemar Sjarief, mengonfirmasi tidak ada titik api (hotspot) baru yang terdeteksi di lokasi sasaran.
“Tapi, petugas akan tetap memantau keesokan harinya,” kata dia seperti dikutip Antara pada Kamis (13/8).
Fokus penanganan kini diarahkan pada tahap pendinginan (cooling down) guna mencegah munculnya percikan api susulan. Akibat eskalasi karhutla ini, seluruh akses kunjungan wisata ke Gunung Bromo telah ditutup total sejak 8 Agustus 2026 hingga batas waktu yang belum ditentukan demi memprioritaskan pemadaman dan keamanan pengunjung.
Peningkatan pencemaran udara akibat kabut asap karhutla juga terekam oleh pemantauan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) periode 18 Juli–10 Agustus 2026.
“Peningkatan paling signifikan terdeteksi pada 3 Agustus, ketika kondisi di sekitar Gunung Bromo menunjukkan konsentrasi partikel yang jauh lebih tinggi dibandingkan wilayah sekitarnya,” demikian dikutip dari unggahan resmi Instagram BMKG.
