Lubang Raksasa Muncul di Sumatra Barat, Ini Pendapat Ahli
Jakarta, sustainlifetoday.com — Fenomena sinkhole atau tanah tiba-tiba berlubang kembali menjadi perhatian publik setelah munculnya lubang besar di Nagari Situjuah Batua. Ahli Geologi dan Mitigasi Bencana Geologi dan Vulkanologi, Ade Edward, menyebut kejadian semacam ini kerap terjadi di wilayah dengan karakteristik batuan kapur.
“Fenomena sinkhole ini sebenarnya sering terjadi, terutama di daerah bukit kapur,” kata Ade Edward mengutip Antara, Senin (5/1).
Ade menjelaskan, Nagari Situjuah Batua merupakan kawasan batu kapur yang tertutup material erupsi Gunung Sago, sehingga struktur geologinya tidak terlihat secara kasat mata. Kesuburan tanah di wilayah ini membuat lahan banyak dimanfaatkan masyarakat untuk pertanian, meski menyimpan potensi risiko geologi.
Menurutnya, batuan kapur memiliki sifat mudah larut ketika terpapar air hujan dalam jangka waktu lama. Proses pelarutan ini memicu terbentuknya retakan di bawah permukaan tanah yang pada akhirnya dapat menciptakan lubang besar atau sinkhole.
Baca Juga:
- Menghitung Harga Cuaca: Mengapa Risiko Fisik Iklim adalah “Luka Finansial” Nyata bagi Industri Tambang
- Ini Resolusi Ramah Lingkungan 2026 Sederhana yang Bisa Dilakukan Sehari-hari
- Danantara Targetkan Dana CSR BUMN Rp1 Triliun untuk Hunian Korban Bencana Sumatra
Fenomena serupa, lanjut Ade, tidak hanya terjadi di Kabupaten Limapuluh Kota. Kejadian sinkhole juga pernah dilaporkan di Kamang, wilayah lain di Sumatera Barat yang memiliki karakter batuan kapur.
Biasanya, di lokasi terbentuknya sinkhole terdapat sungai bawah tanah. Kondisi ini berpotensi membahayakan keselamatan warga, terutama jika lubang muncul di area permukiman atau dekat dengan rumah penduduk.
Ade menduga, kemunculan lubang besar di Nagari Situjuah Batua kemungkinan dipicu oleh penyumbatan aliran bawah tanah yang menyebabkan retakan dan runtuhan tanah secara tiba-tiba.
Untuk mencegah risiko kecelakaan, ia menekankan perlunya langkah cepat dari pemerintah daerah maupun masyarakat. Lubang perlu segera ditutup atau ditimbun menggunakan tanah, pasir, dan batu, hingga dilakukan pengecoran sebagai langkah pengamanan jangka panjang.
“Jadi, ini bukan fenomena baru di Situjuah. Masyarakat lokal kerap menyebutnya dengan istilah Sawah Luluih,” ujar dia.
