Tas Spunbond Makin Meluas di Indonesia, Bagaimana Dampaknya ke Lingkungan?
Jakarta, sustainlifetoday.com — Penggunaan tas spunbond semakin meluas di Indonesia sebagai pengganti kantong plastik sekali pakai. Tas ini kerap dipromosikan sebagai pilihan yang lebih ramah lingkungan karena dapat digunakan berulang kali dan terlihat lebih kuat. Berbagai pusat perbelanjaan, acara resmi, hingga institusi pendidikan menjadikannya bagian dari kampanye pengurangan plastik.
Namun, di balik citra “lebih hijau” tersebut, tas spunbond menyimpan tantangan lingkungan yang tidak sederhana. Secara material, spunbond umumnya dibuat dari polypropylene (PP), yaitu plastik berbasis bahan bakar fosil yang tidak dapat terurai secara alami. Ketika berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA) atau bocor ke lingkungan, tas ini tetap berpotensi menjadi sumber pencemaran jangka panjang.
Sejumlah penelitian terbaru menunjukkan bahwa dampak lingkungan tas guna ulang sangat bergantung pada jumlah pemakaian. Studi Life Cycle Assessment (LCA) yang dipublikasikan oleh European Commission menunjukkan bahwa tas berbahan polypropylene perlu digunakan minimal 20–30 kali agar jejak karbonnya lebih rendah dibanding kantong plastik tipis sekali pakai. Jika hanya digunakan satu atau dua kali, seperti yang kerap terjadi pada tas seminar dan suvenir, dampaknya justru lebih buruk.
“Penggunaan berulang ialah faktor yang sangat menentukan efektivitasnya sebagai solusi lingkungan,” tulis penelitian tersebut.
Penelitian lain yang dirilis oleh UN Environment Programme menegaskan bahwa “substitusi material tanpa perubahan perilaku konsumsi tidak akan signifikan menurunkan beban lingkungan.” Temuan ini relevan dengan kondisi di Indonesia, di mana tas spunbond sering menumpuk di rumah dan akhirnya dibuang.
Jejak Karbon Produksi dan Risiko Mikroplastik
Dari sisi produksi, pembuatan polypropylene memerlukan energi tinggi dan menghasilkan emisi gas rumah kaca. Studi LCA di jurnal Resources, Conservation & Recycling pada 2023 menyebutkan bahwa tas PP yang hanya dipakai beberapa kali memiliki jejak karbon lebih besar dibanding kantong plastik konvensional karena penggunaan material yang lebih tebal.
Masalah lain muncul di fase akhir daur hidup. Meski secara teknis dapat didaur ulang, sistem pengelolaan limbah polypropylene di Indonesia masih terbatas. Akibatnya, sebagian besar tas spunbond berakhir di TPA atau lingkungan terbuka, termasuk sungai dan laut, di mana material ini berpotensi terfragmentasi menjadi mikroplastik yang berisiko bagi ekosistem dan kesehatan manusia.
Baca Juga:
- Jaksa Agung Serahkan Dana Penertiban Kawasan Hutan Rp6,6 Triliun ke Negara
- Kardinal Suharyo Soroti Isu Korupsi hingga Kerusakan Lingkungan dalam Pesan Natal di Gereja Katedral
- Prabowo Serukan Persatuan dan Solidaritas di Hari Natal
Maraknya tas spunbond juga berisiko menciptakan ilusi solusi. Fokus pada penggantian jenis tas dapat mengaburkan tujuan utama pengurangan sampah, yaitu menekan konsumsi dari sumbernya (reduce). Tanpa perubahan perilaku, peralihan dari kresek ke spunbond hanya memindahkan masalah, bukan menyelesaikannya.
Dari sisi sosial, tas spunbond yang diproduksi massal sebagai suvenir murah sering kali berkualitas rendah, mudah rusak, dan tidak nyaman digunakan ulang. Kondisi ini justru mempercepat siklus tas tersebut menjadi sampah, bertentangan dengan semangat keberlanjutan yang diklaim.
Berbagai riset sepakat bahwa solusi tas guna ulang tidak cukup pada aspek material, tetapi harus menyentuh perubahan sistem dan perilaku. Prinsip reduce sebelum replace perlu menjadi pijakan utama kebijakan dan kampanye publik.
Tas guna ulang, termasuk spunbond hanya akan memberikan manfaat lingkungan jika benar-benar digunakan berkali-kali dalam jangka panjang, didukung standar kualitas yang memadai, edukasi konsisten, serta sistem daur ulang yang berfungsi. Tanpa itu, tas spunbond berisiko menjadi “kresek versi baru” dengan dampak lingkungan yang tak kalah serius.
Baca Juga:
