Gawat! Matcha Terancam Punah Akibat Perubahan Iklim
Jakarta, sustainlifetoday.com — Fenomena globalisasi matcha sebagai minuman populer di berbagai belahan dunia kini berbalik menjadi tantangan serius bagi negara asalnya, Jepang. Di tengah melonjaknya permintaan global, para petani matcha di Jepang kini menghadapi penurunan drastis dalam produksi akibat dampak perubahan iklim.
Matcha, bubuk teh hijau khas Jepang, kini menjadi primadona di kafe-kafe dunia dan disajikan dalam bentuk latte, es krim, kue, hingga smoothie. Namun di balik kepopulerannya yang viral di media sosial, Jepang kini menghadapi krisis pasokan yang mengkhawatirkan.
Dilansir dari Reuters pada Kamis (17/7), suhu panas ekstrem yang melanda Jepang dalam beberapa tahun terakhir menjadi penyebab utama penurunan kualitas dan kuantitas panen daun teh yang menjadi bahan baku matcha, yakni tencha. Di Kyoto sebagai wilayah penghasil tencha terbesar, musim panas 2025 ini tercatat sebagai salah satu yang terpanas sepanjang sejarah, menyebabkan kegagalan panen secara masif.
Baca Juga:
- Memahami Kehidupan hingga Kondisi Arktik Terkini dari Film “Sore: Istri dari Masa Depan”
- Danareksa dan KKP Kembangkan Kawasan Industri Pesisir Berbasis ESG
- Gus Baha: Menjaga Alam Adalah Bentuk Sedekah dan Amanah Spiritual
Meski Asosiasi Produksi Teh Jepang mencatat bahwa produksi tencha sempat mencapai 5.336 ton pada 2024, atau naik 2,7 kali lipat dibandingkan satu dekade sebelumnya, tren tersebut kini berbalik. Proyeksi tahun 2025 menunjukkan potensi penurunan tajam akibat cuaca ekstrem.
Dampak Perubahan Iklim di Ladang Teh
Krisis ini semakin menunjukkan bagaimana perubahan iklim global berdampak langsung pada rantai pasok produk pertanian, termasuk tanaman bernilai tinggi seperti matcha. Produksi teh yang bergantung pada keseimbangan suhu dan kelembaban kini menjadi rentan akibat pemanasan global yang memicu gelombang panas dan perubahan pola cuaca.
“Petani teh kini kesulitan memenuhi lonjakan permintaan pasar dunia karena hasil panen yang merosot. Ini bukan sekadar krisis pasokan, tapi peringatan nyata tentang dampak perubahan iklim pada sistem pangan,” tulis laporan tersebut.
Sebagai respons, pemerintah Jepang tengah mendorong para petani untuk beralih dari produksi teh daun biasa ke tencha, sambil menyiapkan skema subsidi dan revisi kebijakan pertanian. Namun, solusi ini diperkirakan memerlukan waktu panjang, karena ladang teh baru membutuhkan waktu sekitar lima tahun untuk bisa dipanen secara optimal.
Sementara itu, untuk mengatur pasokan domestik, sejumlah toko di Jepang telah mulai membatasi pembelian matcha. Konsumen hanya diperbolehkan membeli satu kaleng per orang demi menjaga stok tetap tersedia.
Menurut riset industri, nilai pasar matcha global diperkirakan melonjak dari US$ 2,8 miliar pada 2023 menjadi sekitar US$ 5 miliar pada 2028. Dengan permintaan yang terus meningkat, tekanan terhadap petani dan ekosistem produksi diprediksi akan semakin besar.
